Rabu, 22 Juni 2016

sholeh bagas

KELUARGA KONDUSIF UNTUK MENGOPTIMALKAN PROSES PENDIDIKAN ANAK

Ilustrasi Keluarga Kondusif (Sumber Foto : mochammadmarjuki.blogspot.co.id)
Oleh : Qurrotul Aini
Anak adalah amanah yang dititipkan oleh tuhan  kepada orang tua untuk dirawat, dididik, sekaligus di arahkan kejalan yang benar.  Jika orang tua mampu merawat dan mendidik anak dengan baik, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang menguntungkan dan menetramkan hati orang tua dan lingkungan dimana ia tinggal, sebaliknya jika orang tua salah dalam mendidiknya atau jusrtu mengabaikannya, ia pun akan tumbuh menjadi pribadi   yang bisa membuat orang tuanya celaka.
Mengingat anak adalah amanah  yang harus diperlakukan dengan penuh tanggung jawab, maka seharusnya orang tua mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mengurus dan menjaga amanah tersebut. Dilihat dari sudut pandang agama, ada beberapa kewajiban orang tua terhadap anak.
1.      Memberikan nama yang baik.
Nama yang baik tidak hanya menyangkut aspek keindahan nama tersebut, namun yang terpenting ialah nama yang diberikan harus mengandung makna suci dan doa, yang mencerminkan harapan-harapan kebaikan bagi anak yang menyandang nama itu.
2.      Mencukupi kebutuhan biologis anak.
Dalam hal ini orang tua memilki tanggung jawab untuk memberi makan dan pakaian padanya, orang tua akan berdosa jika menelantarkan dan mengabaikannya.
3.      Mencukupi kebutuhan psikologis anak.
Dalam konteks ini orang tua memilki tanggung jawab untuk memberikan bimbingan dan arahan berupa pendidikan yang baik dan bermamfaat, sehingga sang anak memilki mental dan kepribadian yang baik. Berkaitan dengan tugas tersebut, orang tua harus mengupayakan agar anak memilki kecerdasan emosional, intelektual, dan spiritual.
Tanggung jawab yang terahir berupa mencukupi kebutuhan psikologis anak, yakni pemberian bimbingan dan arahan dari orang tua berupa pendidikan yang baik dan bermamfaat merupakan tanggung jawab yang sangat penting bagi orang tua karena pendidikan merupakan investasi terbesar dalam membangun manusia seutuhnya, sentuhan pendidikan diyakini akan dapat membentuk sumber daya manusia (human resourse) yang berkualitas.
 Pendidikan merupakan suatu usaha manusia untuk membina  kepribadiannya agar sesuai dengan norma-norma atau aturan yang ada dalam masyaratakat untuk  menemukan jati diri dan karakter mereka. Selaras dengan definisi pendidikan yang dikemukakan oleh Ahmad D. Marimba, ia berpendapat bahwa pendidikan merupakan proses bimbingan yang dilakukan secara sadar oleh pendidik terhadap proses perkembangan jasmani dan rohani peserta didik, dengan tujuan supaya terbentuk kepribadian yang unggul. Kepribadian yang unggul ini memiliki makna yang cukup dalam, yaitu pribadi yang bukan hanya pintar secara akademis tapi juga baik secara karakter. Secara umum proses pendidikan terjadi dalam tiga lingkungan, yang bisa disebut dengan tripusat pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, serta masyarakat.
Keluarga  sebagai lingkungan pertama dan utama dimana anak berinteraksi sebagai lembaga pendidikan yang tertua, artinya disinilah dimulai suatu proses pendidikan.  Sehingga orang tua berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Lingkungan keluarga juga dikatakan lingkungan yang paling utama, karena sebagian besar kehidupan anak di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah dalam keluarga. Menurut Hasbullah (1997), dalam tulisannya tentang dasar-dasar ilmu pendidikan, bahwa keluarga sebagai lembaga pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu:
 Pertama, fungsi dalam perkembangan kepribadian anak  dan  mendidik anak dirumah. Diantaranya seperti meletakkan dasar-dasar pendidikan agama, menjamin kehidupan emosional anak, dan  bertanggung jawab dalam memotivasi dan mendorong keberhasilan proses pendidikan  anak.
Kedua, fungsi keluarga/orang tua dalam mendukung pendidikan di sekolah. Seperti bekerja sama dengan pihak sekolah, orang tua bekerjasama dengan guru untuk mengatasi kesulitan belajar anak,  orang tua bersama anak mempersiapkan jenjang pendidikan yang akan dimasuki dan mendampingi selama anak menjalani   proses belajar di lembaga pendidikan.
Untuk dapat menjalankan fungsi tersebut secara maksimal  orang tua harus memiliki kualitas diri yang memadai, sehingga anak-anak akan berkembang sesuai dengan harapan. Artinya orang tua harus memahami hakikat dan peran mereka sebagai orang tua dalam membesarkan anak, membekali diri dengan ilmu tentang pola pengasuhan yang tepat, pengetahuan tentang pendidikan yang dijalani anak, dan ilmu tentang perkembangan anak, sehingga tidak salah dalam menerapkan suatu bentuk pola pendidikan terutama dalam pembentukan karakter anak, sehingga anak memiliki karakter yang baik dari rumah melalui proses terciptanya keluarga yang kondusif dan pola rangsangan-rangsangan daya ingat anak sehingga anak sudah siap mental dan percaya diri saat masuk sekolah sehingga prose belajarnya menjadi lebih mudah dan berjalan optimal melalui lingkungan keluarga  kondusif yang diterapkan oleh orang tua.
Kelurga kondusif adalah kalimat yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan implementasi dari kehidupan yang didambakan oleh setiap keluarga, jika kita terjemahkan secara harfiah menurut duvall dan logan(1986) keluarga adalah  sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, spiritual serta social dari setiap anggota. Sedangkan kondusif menurut kamus besar abahasa Indonesia (KBBI) adalah tenang, teratur atau tidak semraut. jadi keluarga kondusif adalah sekelompok orang yang hidup dalam satu keluarga yang memilki tujuan yang sama dan selalu  sikap tenang dan teratur dalam menjalankan fungsinya masing-masing.
Adapun konsep keluarga yang kondusif atau  harmonis  menurut Abdullah Adil Fathi dalam bukunya “Menjadi Ibu Dambaan Umat Seri Keluarga” adalah :
1.      Membina kerukunan keluarga.
2.      Mendidik anak dengan cara santun, beribadah, berkelakuan baik dan menghormati orang tua.
3.      Mengatur rumah tangga dengan sederhana
4.      Memperhatikan kesehatan keluarga
5.      Jasmani dan rohani mendapat perawatan yang seimbang, bertaqwa kepada Allah
6.      Segala sesuatu direncakan untuk kesejahteraan anak dan keluarga
Keluarga yang kondusif yang selalu menjaga kerukunan keluarga da memperhatikan kesejahteraan anak akan mengalirkan energi positif bagi keluarga dan lingkungannya terutama pada anak, sehingga anak merasa nyaman berada dirumah dan selalu merindukan kasih sayang orang tuanya, karena jika anak tumbuh di lingkungan yang kondusif  maka anak mudah di didik dan diarahkan dalam setiap  sikap dan tindakannya. Pengalaman belajar yang berhasil untuk pertama kalinya kebanyakan dialami anak di rumah, Kalau lingkungan rumah menyenangkan, penuh kasih sayang, dan penuh perangsangan, potensi belajar anak akan tinggi, karena anak terangsang untuk mempergunakan sumber alaminya yaitu panca indranya sepenuhnya sehingga proses pendidikannya akan berjalan secara optimal,. Sebaliknya jika anak-nak tumbuh dalam lingkungan keluarga yang tidak kondusif, miskin pendidikan dan miskin budaya, perkembangan fisik dan mental merekapun akan terhambat dan proses pendidikannya juga akan terhambat, kalau lingkungan rumah kacau, kaku serba dibatasi, dingin, tanpa perangsangan belajar, anak tidak akan punya kebebasan untuk mengembangkan potensi belajarnya secara optimal.
Setelah menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif maka tugas dan tanggung jawab orang tua dalam memenuhi kebutuhan psikologis anak akan lebih mudah untuk dijalani dan proses pendidikan anak akan tercapai secara optimal. Selain menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mengoptimalkan proses pendidikan anak ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh orang tua dalam proses pendidikan anak diantaranya adalah:
1.      Menyekolahkan anak pada usia yang tepat.
Orang tua harus mengerti kapan anak siap untuk disekolahkan dan pada usia berapa, bukan justru terburu-buru untuk menyekolahkan anak karena berfikir dengan bersekolah, sang anak akan menjadi cerdas dan pintar. Karena, pada kenyataannya, disekolahpun anak di tunutut untuk dapat mengingat pelajaran dengan baik supaya ia mampu menjawab soal-soal ujian dengan benar.
2.      Tidak menyerahkan tugas seutuhnya kepada sekolah atau guru dalam  proses belajar anak.
Orang tua, guru, dan sekolah merupakan tiga elemen yang harus berfungsi secara bersamaan dalam mendukung proses belajar anak, karena jika yang jika salah satu dari ketiga elemen tersebut tidak difungsikan maka proses belajar anak tidak akan optimal, karena sejatinya keberhasilan belajar anak adalah
3.      Adanya pengawasan dan perhatian penuh dari orang tua dalam proses belajar anak.
Pengawasan dalam proses belajar anak harus terus dilakukan oleh orang tua dalam beberapa hal diantaranya
a)     Mengulang pelajaran kembali dirumah dengan bimbingan langsung dari  orang tua atau pihak keluarga yang mampu membimbing anak.
b)  Mengikut sertakan anak lest private atau kursus-kursus untuk memperdalam pendidikan anak.
c)      Menyediakan tempat belajar yang nyaman bagi anak.
d)     Menyedikan waktu istirahat yang cukup.
e)      Memperhatikan proses perjalanan anak dari rumah kesekolah dan dari sekolah kerumah. 
4.      Memperhatikan teman dan lingkungan  bermain anak.

Pada saat usia sekolah anak mulai senang bermain diluar rumah dengan teman sebayanya ataupun dengan teman sekolahnya, karena itu orang tua harus memperhatikan lingkungan dan teman bermain anak, karena lingkungan sangat berpengaruh bagi perkembangan prose belajar anak.