Senin, 10 April 2017

sholeh bagas

Sastra Madura: Inspirasi Pendidikan Karakter Menuju Kemajuan Bangsa

Foto: Gambar Dokumentasi Dela HarisMaya
Sastra Madura
Sastra daerah baik lisan maupun tulisan merupakan kekayaan budaya daerah yang kelestariannya ditentukan oleh pendukung budaya daerah yang bersangkutan. Sastra daerah menyimpan nilai-nilai kedaerahan dan akan memberikan sumbangsi yang sangat besar bagi perkembangan sastra di daerah dan Indonesia pada umumnya. Dengan sastra daerah, dapat diketahui asal-usul suatu daerah dengan berbagai kearifan yang dicurahkan lewat berbagai mitos, legenda, dongeng, dan riwayat termasuk di dalamnya permainan rakyat dan nyanyian lokal.
Berbicara mengenai sastra daerah, tentunya tidak terlepas dari bahasa yang menjadi akar dari sastra daerah itu sendiri. Selain itu bahasa juga menjadi simbol suatu peradaban bangsa. Bahasa Madura mempunyai sistem pelafalan yang unik. Begitu uniknya sehingga orang luar Madura yang berusaha mempelajarinyapun mengalami kesulitan, khususnya dari segi pelafalan tadi. Bahasa Madura mempunyai lafal sentak dan ditekan terutama pada konsonan [b], [d], [j], [g], jh, dh dan bh atau pada konsonan rangkap seperti jj, dd dan bb . Namun penekanan ini sering terjadi pada suku kata bagian tengah. Sedangkan untuk sistem vokal, Bahasa Madura mengenal vokal [a], [i], [u], [e], dan [o].
Secara umum, terdapat dua jenis sastra Madura, yaitu sastra Madura populis dan sastra Madura partikularis. Disebut Populis karena sastra Madura jenis ini dikenal luas oleh segenap lapisan masyarakat Madura. Disebut partikularis karena sastra jenis ini dikenal hanya oleh beberapa lapis masyarakat dan biasanya oleh generasi tua (Iqbal Nurul Azhar: 2013)
Contoh dari sastra Madura populis adalah dungngeng (dongeng). Dungngeng adalah cerita rakyat yang mengandung pesan-pesan moral dan harapan dan sering didendangkan dalam perkumpulan-perkumpulan bahkan dalam keluarga. Dungngeng ini merupakan bingkai dari kisah-kisah kehidupan masyarakat Madura di masa lampau. Beberapa dungngeng Madura yang terkenal adalah dungngeng kepahlawanan pangeran Tronojoyo, Potre Koneng, Asal muasal kerapan sapi, Sakera, Ke’ lesap, Angling Darma Ambya Madura, dan lainnya.
Contoh yang kedua dari sastra populis adalah syi’ir. Syi’ir merupakan rangkaian kata-kata indah yang membentuk kalimat-kalimat yang terpadu dan biasanya di baca di pesantren-pesanten, majlis ta’lim, dan walimatul urs. Si’ir Madura tersusun dari 4 padda/biri (baris). Tiap padda terdiri dari 10 keccap (ketukan). Tiap akhir suara pada padda mengandung pola a – a – a – a. Isi syi’ir bermacam-macam, bergantung dari selera dan kesenangan serta tujuan dari pembuatnya. Jenis-jenis syi’ir beraneka ragam seperti syi’ir yang menceritakan kisah nabi, cerita orang mati siksa kubur, perhatian pada pendidikan, agama atau akhlak. Contoh-contoh syi’ir adalah sebagai berikut
Pong-pong gi’ kene’ gi’ ngodha-ngodhaPabajeng nyare elmo akida
Manabi nyaba dhapa’ gan dhadha
Kastana ampon bi’ tadha’padha
Mumpung masih kecil masih muda-mudaRajinlah mencari ilmu akidah
Apabila nyawa telah sampai di dada
Menyesalpun tidak akan ada manfaatnya
Sastra Madura dapat memberikan motivasi kepada pembaca, pendengar, pencipta dan penggemarnya. Berikut adalah beberapa contoh karya sastra yang memikili pesan moral dan motivasi-motivasi:
a) Puisi Pantun Madura
Pantun Madura dikenal juga sebagai sendhilan. Sendhilan digunakan sebagai salah satu bentuk komunikasi antarorang Madura. Keunikan dari komunikasi sendhilan adalah komunikasi jenis ini dilakukan dengan menggunakan pantun atau paparegan. Biasanya, sendhilan dilakukan antara kaum laki dan kaum perempuan dengan cara berbalas-balasan pantun.
Di dalam sebuah pantun ada yang dinamakan  andheggan (bait) pantun dan  padda/biri (baris) pantun. Setiap andheggan terdiri dari empat padda, dan pada tiap-tiap padda biasanya berisi delapan keccap (ketuk/suku kata). Lafal (suara/bunyi) yang berada di akhir padda pertama harus sama dengan lafal suara di akhir padda tiga. Lafal suara akhir padda dua sama dengan lafal suara pada akhir padda keempat (Jasin, 2005).
Pantun yang digunakan dalam sastra dan budaya Madura ada 4 jenis, yaitu: (1) Pantun agama: berisi ajaran dan pesan-pesan agama,  (2) Pantun baburugan (nasehat): berisi nasehat yang mengandung aturan, ajaran  budi pekerti, pendidikan dan akhlak, (3) Pantun sekaseyan: digunakan oleh para pemuda ketika jatuh cinta, (4) Pantun palenggiran: berisi kalimat yang dapat membuat orang tertawa karena lucu.
Contoh puisi pantun Agama
Ngare’ lalang ka PangleghurNompa’ rata asamperan
Ta’ elanglang dika lebur Kor ja’ loppa dha’ Pangeranna
Mengambil ilalang ke pangleghurNaik rata memakai kain samper
Tidak dihalangi anda senang Asalkan jangan lupa pada penciptanya
Contoh Pantun Babhurugan
Ngala’ sere epapesaEsarenga gan sakone’
Knesserra oreng towa Semeyara kabit kene’
Ngambil sirih dipisahkanDisaring sedikit demi sedikit
Sayangilah orang tua yang memelihara sejak kecil
 Contoh Pantun Sekaseyan
Pasar bara’ pasar PakongMelle jamo copa’agi
Mon ta’ endha’ enggi ampon Ding tatemmo sapaagi
Pasar barat pasar PakongBeli jamu diludahkan
Kalau tidak mau tidak apa-apaKalau bertemu sapalah
            Contoh Pantun Plenggiran
 b) Paparegan
Paparegam adalah salah satu bentuk sastra Madura yang biasa digunakan untuk memberi nasehat. Bentuk paparegan  ada dua yaitu:
1)      Paparegan yang terbentuk dari dua padda/biri (baris) dalam satu andheggan     (bait). Padda/biri pertama adalah samperan/bibidan. Padda/biri kedua adalah isi/teggessa
2)       Paparegan yang terdiri dari 4 padda/biri dalam satu andheggan. Padda/biri 1 dan 2 berupa samperan/bibidan. Sedang padda/biri 3 dan 4 adalah isi/teggessa dari Paparegan (Jasin, 2005).
Paparegan yang terdiri dari 4 padda/biri memiliki bentuk yang hampir sama seperti pantun. Keduanya sama-sama mengandung guru sastra dan guru sowara. Bedanya, jika pantun ditentukan berapa jumlah keccap (ketuk/suku kata), maka dalam paparegan tidak ditentukan banyaknya keccapnya.
Contoh Paparega yang terdiri dari 2 padda
 Contoh Paparega yang terdiri dari 4 padda 
c) Saloka
Saloka adalah kata-kata sastra yang  berisi petuah-petuah bijak, dan penuh makna. Sering disampaikan dalam banyak acara dan dalam tulisan-tulisan sastra Madura. Kebenaran dari isi petuah-petuah bijak ini telah banyak dibuktikan  sehingga orang yang mendengar atau membaca akan selalu membenarkannya dan meyakini. Contoh
1)      Juda nagara potos: hokum nagara ta’ ekenneng tandhinge (Yuda Negara Putus; Hukum negara tidak bisa ditandingi)
2)      Namen cabbi molong cabbi: jube’na oreng gumantong dhari lakona dibi’ (Menanan cabai menuai cabai; keburukan orang tergantung dari tingkah lakunya sendiri)
3)      Mon bagus kodu pabagas: mon oreng bagus robana kodhu pabagus reya Gulina (Orang yang wajahnya bagus seharusnya tingkah lakunya juga bagus)
d)Tembhang
Tembhang tidak jauh berbeda dengan syi’ir. Biasanya tembhang dibaca ketika seseorang mempunyai hajat seperti akan mengawinkan anak atau yang lainnya. Tembhang ini di baca oleh dua orang atau lebih sepanjang malam.
Ada 3 jenis jenis tembhang yang dikenal oleh orang Madura. Yaitu Tembhang Macapat, Tembhang Tengnga’an, dan Tembhang Raja. Tembhang Macapat terdiri dari 9 macam jenis  antara lain: (1) Tembhang artate, (2) Tembhang Maskumambang, (3) Tembhang Senom, (4) Tembhang Kasmaran, (5) Tembhang Salanget/Kenanthe, (6) Tembhang Pangkor (7) Tembhang Durma, (8) Tembhang Mejil, (9) Tembhang Pucung. Tembhang Tengnga’an terdiri dari ada 5 jenis yaitu (1) Tembhang Jurudemmong (2) Tembhang Wirangrong (3) Tembhang Balabak (4) Tembhang Gambu (5) Tembhang Magattro. Adapun tembhang yang terakhir adalah tembhang Raja. Yang termasuk tembhang jenis ini hanya ada satu yaitu tembhang Giriso (Jasin, 2005). Yang paling banyak digunakan dan dibahas dalam buku kesusastraan Madura adalah Tembhang Macapat yang berjumlah sembilan. Dalam makalah ini, akan didiskusikan secara umum ciri kesembilan jenis tembang tersebut.
Tembhang Artate memiliki arti pengharap kebaikan. Tembhang ini biasanya digunakan untuk menyebarkan nasihat baik, bisa juga digunakan untuk kagemaran, juga dipakai untuk pembuka di tengah maupun di akhir cerita. Tembhang Maskumambang memiliki pengertian prihatin, kondisi yang sangat susah dan mengenaskan. Tembhang Senom mengandung kiyasan atau parsemon, sangat bagus digunakan untuk ajaran kebatinan.
Tembhang Kasmaran memiliki arti asmara atau kasemsem, tembhang ini menungjukkan perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta. Tembhang Salanget/Kenanthe memiliki arti kanthe dan longet. Tembang ini digunakan untuk ajaran kebaikan, kegandrungan, kerukunan dan lalonget. Tembhang Pangkor memiliki arti ekor. Tembang ini digunakan untuk menunjukkan perasaan keras, marah, dan menghadapi perang. Tembhang Durma memiliki arti sifat macan, sedih, sangat marah, perang. Tembhang Mejil memiliki arti keluar. Digunakan untuk kegemaran, kesusahan dan prihatin. Tembhang Pucung memiliki arti keluar, bersifat lebih ringan, dan biasanya berupa tebak tebakan atau teka-teki.
Tiap-tiap tembhang memiliki aturan tersendiri baik itu berupa jumlah andheggan maupun paddha/biri. Pada tiap-tiap paddha, guru bilangan telah ditentukan, demikian juga guru lagunya. Yang dimaksud guru bilangan adalah banyaknya ketukan pada tiap padda. Yang dimaksud guru lagu adalah suara pada tiap akhir padda. Contoh aturan pada tembhang (dalam hal ini Pucung):
Bapa’ pucung ropana amendha gunong
Tadha’ reng se tresna
Mala kabbhi pada baji’

Ding kanggunan elos-ellos ngesprengesan

Sifat Pucung: (a) Andheggan: 4 padda/biri (b) Padda no 1 guru bilangannya 12 ketuk mengandung guru lagu o atau u (c) Padda no 2 mengandung guru bilangan 6 ketuk. Mengandung guru lagu a (d) Padda no 3 mengandung 8 ketuk, mengandung guru lagu e atau i (e) Padda no 4 mengandung guru lagu 12 ketuk, mengandung guru lagu a (Jasin, 2005). Contoh tembhang lainnya (dala hal ini Slanget dan Maskumambang bisa dilihat di bawah ini:
Slanget
Tabbuwanna pon ngaromongNajagana padha oneng
Sadajana reng pettengan
Swarana nyaman ka kopeng
Terros kerkas tale rassa
Otek somsom bara ate
Musiknya telah berkumandangPemainnya telah paham
Semuanya gelap
Suaranya merdu di telinga
Menggetarkan hati
Otak sumsum paru-paru hati
Mas kumambang
Adhu adhu benne kaka’ benne ale’Benne sana’ kadhang
Mon mate noro’ nangesen
Marga melo kaelangan
Aduh aduh bukan kakak bukab adikBukan snak sudara
Jika meninggal ikut menagis
Karena ikut merasa kehilangan

Perilaku Menyimpang pada remaja
Menurut Gillin Perilaku menyimpang adalah perilaku yang menyimpang dari norma dan nilai sosial keluarga dan masyarakat yang menjadi penyebab memudarnya ikatan atau solidaritas kelompok.Perilaku menyimpang yang juga biasa dikenal dengan nama penyimpangan sosial adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan atau kepatutan, baik dalam sudut pandang kemanusiaan (agama) secara individu maupun pembenarannya sebagai bagian daripada makhluk sosial (Wikipedia: 2013).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun di tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat, misalnya seorang siswa menyontek pada saat ulangan, berbohong, mencuri, dan mengganggu siswa lain.
Perilaku menyimpang pada remaja terjadi pada masyarakat dikalangan atas maupun dikalangan bawah. Telah banyak terjadi kasus pergaulan bebas di kalangan remaja dan telah mencapai titik kekhawatiran yang cukup parah, terutama tindakan seks bebas. Pelakunya bukan hanya kalangan SMA, bahkan sudah merambat di kalangan SMP. Sehingga banyak kasus remaja putri yang hamil diluar nikah (Iis Susanti: 2015).
Masa remaja hendaknya digunakan sebaik mungkin untuk menuntut ilmu dan bersosialisasi pada tempat yang seharusnya agar tercipta kepribadian yang santun dan agamis, namun para remaja telah diracuni oleh budaya asing (westernisasi) sehingga mereka berubah haluan dari kepribadian bangsa timur yang tertutup menjadi budaya barat yang budaya berpakaiannya terbuka atau transparan. Menurut Fanggidae hal tersebut disebut Pergeseran Nilai akibat majunya arus informasi dari dunia internasional (Fanggidae, 1993:6).
Sosialisasi yang dijalani individu tidak selalu berhasil menumbuhkan nilai dan norma sosial dalam jiwa individu. Akibat kegagalan mensosialisasikan nilai dan norma sosial itu, kadang kala individu melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kaidah yang berlaku di masyarakat atau yang disebut dengan penyimpangan sosial atau perilaku menyimpang (Iis Susanti: 2015).
Remaja memerlukan cerminan yang baik, lingkungan yang baik akan memberikan dampak yang baik. Remaja bertikah laku menyimpang tentunya ada suatu penyebab baik internal maupun eksternal.



Faktor internal penyebab kenakalan remaja (Solusi Remaja: 2016), yaitu:
a)      Krisis identitas
Perubahan secara fisik maupun sosiologis pada remaja memungkinkan terbentuknya dua hal yang terjadi. Pertama, terbentuknya perasaan terhadap konsistensi pada kehidupannya. Yang kedua adalah tercapainya identitas peran. Seorang remaja akan mengalami pemberontakan ketika mengalami ketidak seimbangan antara konsistensi kehidupan dan identitas peran.
b)      Kontrol diri yang lemah
Dalam berperilaku seseorang membutuhkan kontrol. Remaja yang kurang bisa menilai perilaku mana yang bisa dilakukan dan mana yang tidak akan lebih mudah melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang. Kontrol diri dalam remaja diperlukan untuk mencegah remaja dalam melakukan perilaku menyimpang yang dipengaruhi oleh dalam diri sendiri maupun lingkungan.
Faktor eksternal penyebab kenakalan remaja(Solusi Remaja: 2016), yaitu:
a)      Problem dalam Keluarga
Permasalahan dalam keluarga seringkali berdampak pada kondisi psikologis remaja. Pola asuh tidak sesuai hingga perceraian orangtua berdampak pada pemberontakan remaja dengan melakukan perilaku “nakal”.
b)      Pola pendidikan sekolah yang tidak sesuai
Pola pendidikan otoriter yang cenderung menggunakan kekerasan dalam proses belajar mengajar bisa menjadi faktor timbulnya agresifitas remaja yang tinggi. Remaja akan cenderung melampiaskan tekanan yang dialami di sekolah dalam bentuk kenakalan. Teman sebaya yang kurang baik Teman sebaya memiliki pengaruh yang kuat pada perilaku remaja. Remaja yang memiliki teman sebaya yang kurang baik seringkali terpengaruh pada perilaku yang menyimpang. Teman sebaya merupakan tolak ukur apakah remaja diterima dalam lingkungannya atau tidak. Tak jarang remaja demi melakukan apa saja demi bisa diterima oleh teman sebayanya.
c)      Lingkungan tempat tinggal yang buruk
Karakter seorang remaja juga dipengaruhi oleh lingkungan dimana tempat ia tinggal. Remaja yang tinggal pada lingkungan yang penuh dengan kriminalitas cenderung akan memiliki perilaku kriminal pula. Tak jarang perilaku menyimpang remaja dipengaruhi oleh lingkungan yang tidak baik.
Pendidikan karakter
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian (KBBI). Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UU No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS).
Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara. menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik-baik yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku.
Pendidikan karakter adalah segala upaya yang bisa dilakukan untuk mempengaruhi karakter anak didik. Pendidikan karakter merupakan suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan menerapkan nilai-nilai etika atau budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter sangat berperan penting dalam pembangunan suatu bangsa. Bangsa yang memiliki karakter dan kepribadian, maka akan unggul dibandingkan dengan bangsa yang belum memiliki karakter dan kepribadian.
Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education)  dalam konteks saat ini sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas, oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan karakter.
Pendidikan karakter merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan di dunia ini. Karena dengan adanya pendidikan karakter inilah manusia mampu berperilaku sesuai dengan karakter bangsa. Sehingga identitas dalam suatu Negara kita tercinta ini Negara Indonesia menjadi jelas. Sastra Madura merupakan karya sastra yang kaya dengan pesan moral. Ajar-ajaranya yang mengajak kea rah kebaikan. Dalam hal ini pendidikan karakter melalui karya sastra Madura perlu di tanamankan kepada remaja. Pentingnya pendidikan karakter ini ditanamkan agar remaja sebagai generasi penerus bangsa tidak terjerumus ke arah perilaku yang tidak sesuai dengan karakter bangsa kita bangsa Indonesia yang terkenal dengan kesopanan dan keramahannya.

 Dituli Oleh:
Nama : Dela Harismaya
Tempat dan tanggal lahir : Probolinggo,03 Agustus 1997
Status : Mahasiswa
Asal Institusi :  Universitas Trunojoyo Madura

Atikel ini diikut sertakan dalam Kegiatan IMPEG Award Bidang LKTI sebagai Juara I Yang diselenggarakan oleh Studi Riset Pengembangan Madura (SRPM) pada Hari Minggu 15 Januari 2017