Tampilkan postingan dengan label Bangkalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bangkalan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Juli 2017

sholeh bagas

Pesinden Sapi Sonok Suatu Potret Emansipasi Wanita

Gambar : Dela Harismaya (foto : Dokumentasi Dela Harismaya) 
Oleh: Dela Harismaya
sheelunglee@yahoo.co.id

Emansipasi  ialah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat. Emansipasi merupakan penerapan dari Kesetaraan gender, dikenal juga sebagai keadilan gender, adalah pandangan bahwa semua orang harus menerima perlakuan yang setara dan tidak didiskriminasi berdasarkan identitas gender mereka. Ini adalah salah satu tujuan dari Deklarasi Universal Hak asasi Manusia, PBB yang berusaha untuk menciptakan kesetaraan dalam bidang sosial dan hukum, seperti dalam aktivitas demokrasi dan memastikan akses pekerjaan yang setara dan upah yang sama. Dalam prakteknya, tujuan dari kesetaraan gender adalah agar tiap orang memperoleh perlakuan yang sama dan adil dalam masyarakat, tidak hanya dalam bidang politik, di tempat kerja, atau bidang yang terkait dengan kebijakan tertentu (Wikipedia, 2016).

Artikel ini menceritakan tentang gambaran emansipasi pada wanita Madura yang bekerja sebagai sinden sapi sonok. Sapi sonok merupakan kebudayaan Madura khas Kabupaten Pamekasan. Sapi sonok merupakan aset kebudayaan Madura. Sapi sonok adalah ajang kontes semacam karapan sapi, namun sapi yang digunakan disini adalah sapi betina. Kontes sapi sonok Madura dimulai pada tahun 1960-an. Sapi sonok merupakan ajang kecantikan pada sapi betina. sapi memakai pakaian lengkap dengan pernak-penik yang menghiasi tubuhnya.  Sapi tersebut merupakan sapi pilihan yang dirawat dengan cara yang spesial, sehingga sapi sonok tidak seperti sapi pada umumnya. Sapi-sapi ini berbadan ramping dan berkulit mulus. Prosesi lomba, sapi-sapi cantik tersebut berjalan lurus layak seorang model yang giring oleh sang pemilik sapi dan iringan music saronen juga sinden. 
Gambar : saat kontes Sapi Sonok seorang perempuan sedang sinden (foto : tribunnews.com )

Banyak orang mengatakan kebanyakan perempuan Madura hanya bisa bekerja dirumah, namun persepsi itu salah perempuan Madura juga bisa bekerja diluar. Wanita Madura juga bisa berkarir. Kini keseteraan gender dikalangan wanita Madura sudah terasa. Mereka sudah dapat bekerja diluar. Wanita Madura akan merasa bangga apabila ia diberikan kesempatan menjadi sinden sapi sonok. 

Seperti pada lansiran kompas.com (Taufiq, 2012) Menjadi penari atau sinden dalam setiap kontes Sapi Sonok di Madura merupakan kebanggaan tersendiri bagi perempuan-perempuan Madura. Sebab, tidak semua perempuan bisa menari di depan umum sambil didampingi pria-pria pemilik dan penggemar sapi betina.

Menjadi pesinden sapi sonok membutuhkan keberanian serta mental yang kuat karena mereka harus menyanyi dan menari didepan umum. Lenggak-lenggok tarian dan merdunya suara yang mereka persembahkan kepada penonton. Menjadi seorang sinden sapi sonok sangatlah membutuhkan perjuangan. Tidak hanya keahlian yang harus diutamakan Mereka namun juga kecantikan menjadi nlai tambah tersendiri. (23/12), suarapagi.com “kecantikan wajah tentu akan menambah kesuksesan seorang sinden”. Pesinden berupayah menghibur penonton dengan kelihayan mereka dalam menari serta suara emas yang keluar dari pita suara mereka. sehingga kecantikan mereka seringkali mengundang syawat kaum lelaki untuk melecehkannya.

Menjalani hidup sebagai pesinden bukan hanya sekedar untuk bekerja, namun menjadi sinden sapi sonok itu berarti orang tersebut telah turut  berpartisipasi melestarikan budaya Madura. Oleh sebab itu wanita pesinden sapi sonok sudah sepatutnya mendapatkan perlindungan. Bukan untuk dilecehkan. Melindungi wanita pesinden sapi sonok itu berarti juga melindungi budaya sapi sonok agar tetap utuh. Budaya yang telah kita miliki sudah sepatut diselestarikan bukan di nodai lalu ditinggalkan agar pensinden sapi sonok tetap eksis, sehingga anak cucu kita masih dapat mengetahui apa itu sapi sonok. 

Rabu, 12 Juli 2017

sholeh bagas

Pengorbanan Perempuan Madura sebagai Panutan Tindakan Kesetaraan Gender

Foto : Dokumentasi Anik Mufdah
Oleh :
Anik Mufidah / 150541100030
Prodi Psikologi
Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya
Universitas Trunojoyo Madura 2017

Pendahuluan
Indonesia memiliki beraneka ragam pulau dan suku, setiap pulau dan suku mempunyai keunikan – keunikan tersendiri.  Salah satu pulau yang ada di Indonesia adalah Pulau Madura, Pulau Madura  adalah nama pulau yang terletak di sebelah timur laut Jawa Timur. Pulau Madura besarnya kurang lebih 5.168 km2 (lebih kecil daripada Pulau Bali), dengan penduduknya bernama Suku Madura yang terdapat hampir 4 juta jiwa (Wikipedia, Bahasa Indonesia).  Ketika membicarakan tentang Madura, maka biasanya orang-orang akan langsung mempersepsikan dibenaknya bahwa Madura terkenal dengan carok, karapan sapi, dan orang-orangnya yang keras. Namun disisi lain, masih banyak yang harus diketahui tentang Madura terutama perempuan-perempuan yang ada di Madura. Meskipun tidak begitu banyak dibahas, sejatinya perempuan Madura itu luar biasa, sama dengan perempuan di daerah lain yang mempunyai ciri khas tersendiri, perempuan pulau garam inipun demikian juga, baik dari segi kepribadian, sikap, dan tutur bahasanya. Ciri khas yang paling melekat dengan perempuan Madura adalah perempuan Madura yang terkenal dengan kerja kerasnya yang suka membantu suami mencari nafkah ditambah dengan pekerjaan rumah tangga yang harus dikerjakan. Ciri khas ini membawa persepsi yang berbeda-beda mengenai perempuan Madura sehingga berimbas terhadap kaum lelaki di Madura yang dipersepsikan negative oleh orang yang dari luar Madura terutama perempuan Jawa mempersepsikan negative tentang laki-laki Madura yang suka memperkerjakan istrinya sendiri demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, sehingga sering kali khawatir jika menikah dengan laki-laki dari Madura. Suku jawa merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia merupakan Etnis sebelumnya Suku Jawa berjumlah 47,05% Pada Tahun 1930 yang di adakan oleh Pemerintahan Kolonial Belanda pada waktu itu. Selain adat istiadat, kepercayaa, dan seninya banyak sekali yang perlu di bahas terutama perempuan jawa yang dikenal dengan lemah lembutnya namun tegas yang berbanding terbalik dengan keunikan perempuan Madura. Perempuan Jawa memiliki sifat yang menjadi cirri khasnya yaitu gemati, merak ati, dan luluh. Gemati artinya mampu dan pintar memelihara atau menyelenggara¬kan segala sesuatu dengan baik. Merak ati adalah wanita yang ngadi warna, yakni pintar bersolek atau berdandan hingga terkesan ia pintar merawat dan menjaga kecantikannya; tidak hanya kecantikan lahir tetapi juga kecantikan batinnya adalah wanita yang ngadi warna, yakni pintar bersolek atau berdandan hingga terkesan ia pintar merawat dan menjaga kecantikannya; tidak hanya kecantikan lahir tetapi juga kecantikan batinnya, dan luluh yang bermakna sabar atau mudah bersabar hati. Selain dari segi sikapnya, masih banyak perbedaan antara perempuan Madura dan Jawa yaitu dari segi pakaianya, kebersihanya, dan bentuk tubuhnya.
Paparan diatas menjelaskan tentang sedikit gambaran tentang perempuan Madura dan perempuan Jawa. Perbedaan tersebut telah membawa para perempuan akhirnya membentuk pola pikir yang berbeda dalam memaknai suatu peran yang sedang dijalankan. Peran perempuan yang dijalankan setiap daerah mengikuti kebiasaan-kebiasaan yang ada didaerah tersebut yang akhirnya menjadi suatu kebudayaan. Terdapat keunikan dari setiap daerah berdasarkan hasil kebudayaan yang telah terbentuk. Peran perempuan sendiri tidak bisa lepas dari arti sebenarnya tentang perempuan. Secara fisik perempuan pada dasarnya bukan sekedar tubuh yang berbeda dengan laki-laki. Secara biologis perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan yang dapat ditengarai melalui bentuk kelamin. Perempuan secara fisik memang berbeda dengan laki-laki dan tidak bisa dirubah. Peran perempuan dengan bentuk tubuh yang lebih lemah daripada laki-laki membuat peranya menjadi non produktif yang seperti kebanyakan pada umumnya. Perempuan dianggap lebih cocok berada didalam rumah mengurus pekerjaan rumah tangga daripada bekerja diluar rumah. Inilah yang perlu dikagumi dari perempuan Madura yang suka bekerja keras dan membantu suami diladang atau dikebun. Perempun Madura lebih banyak yang bekerja membantu suaminya diladang atau dikebun, hal ini bisa dikatakan perempuan Madura sangat kuat dan perkasa, tidak semua perempuan bisa dibilang mau melakukan pekerjaan tersebut terutama perempuan Jawa. Perempuan Jawa yang pada dasarnya memiliki sifat lemah lembut dan lebih suka bekerja mengurus rumah tangga, bisa dikatakan tidak semua perempan Jawa sanggup melakukan pekerjaan seperti perempuan Madura. Oleh karena itu tidaklah heran jika perempuan Jawa khawatir kalau mendapat laki-laki dari Madura. Kepribadian, sifat yang ada pada perempuan Jawa tidak lain terbentuk karena hasil kebudayaan dari nenek moyangnya sejak dahulu. 
Metode Penelitian
Dalam penulisan ini, penulis mencoba untuk menggali isu-isu yang ada dimasayarakat dengan mencari sumber referensi-referensi dari peneliti sebelumnya. Penulis melakukan observasi terhadap isu-isu yang sedang terjadi di masyarakat. Penulis ingin meluruskan pandangan masyarakat terhadap perempuan Madura setelah mendengar beberapa isu-isu tentang perempuan Madura, sebagai perempun Jawa penulis ingin menggunakan sudut pandangnya sebagai ide dari permasalahan ini. 

Kajian Pustaka 
3.1 Gender 
Gender sebagai suatu konsep bertumpu pada aspek biologis (biological reductionism) sebagaimana dikatakan oleh Cucchiari (1994 dalam ) bahwa gender  memiliki dua kategori biologis yang berbeda namun saling mengisi, yaitu pertama kategori laki-laki dan yang kedua adalah kategori perempuan. Setiap kategori  mengandung makna yang pengertiannya bervariasi dari satu ke lain masyarakat. Setiap aktivitas, sikap, tata nilai dan simbol-simbol diberi makna oleh masyarakat pendukungnya menurut kategori biologis masing-masing. Seks adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan secara biologis  melekat pada jenis kelamin tertentu. Seks berarti perbedaan laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang secara kodrati memiliki fungsi-fungsi organisme yang berbeda. 

A. Implementasi Ketidaksetaraan
Sejarah pembedaan antara laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses sosialisasi, penguatan dan konstruksi sosial kultural, keagamaan, bahkan melalui kekuasaan negara. Melalui proses yang panjang, gender lambat laun menjadi seolah-olah kodrat Tuhan atau ketentuan biologis yang tidak dapat diubah lagi. Akibatnya, gender mempengaruhi keyakinan manusia serta budaya masyarakat tentang bagaimana lelaki dan perempuan berpikir dan bertindak sesuai dengan ketentuan sosial tersebut. 

B. Kedudukan Perempuan dari Berbagai Sudut Pandang
1. Perspektif Ekonomi
Dalam kacamata ekonomi, subordinasi kedudukan perempuan yang berada di bawah laki-laki berakar pada ketergantungan ekonomi. Charlotte P. Gilman, dalam salah satu tulisannya yang berjudul Women and Economic, 1898 (dalam Hollinger dan Capper, 2001 : 46) mengatakan bahwa apabila seorang perempuan kehilangan aktivitas ekonomi dan mengubahnya secara keseluruhan menjadi seks, menjadi semata-mata “kantung telur”, sebuah organisme tanpa daya untuk mempertahankan ras”. Artinya Gilman berargumantasi bahwa sesungguhnya status sekunder perempuan berdasar lebih pada masalah ekonomi daripada sosial dan budaya. Hal ini berarti bahwa dalam suatu masyarakat dengan budaya tertentu, apabila seorang perempuan secara ekonomi dominan terhadap laki-laki, maka ia dapat memegang kedudukan yang superior terhadap laki-laki.
2. perspektif politis
Pada bagian kedua, kebebasan ekonomi adalah sarana yang sangat dibutuhkan bagi 
tercapainya kebebasan politik. Diane Elson dalam artikelnya y
ang berjudul Structural Adjustment : Its Effect on Women, 1989 (1991 : 42) mengatakan bahwa hubungan antara perempuan, pasar dan negara adalah kompleks. Kompleksitas dalam hubungan segitiga antara perempuan, pasar dan negara ini dapat membawa rintangan bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam  lingkup politik. Hal ini disebabkan oleh adanya pertimbangan bahwa perempuan tidak mandiri secara ekonomis, oleh karenyanya perempuan tidak layak untuk memperoleh akses pada sumber daya, seperti yang diperoleh laki-laki.) 
3. Perspektif Budaya
Margaret L. Anderson (1983 : 47) mendefinisikan budaya sebagai sebuah pola harapan tentang perilaku dan kepercayaan pada apa yang pantas bagi anggota masyarakat. Oleh karena itu, budaya menyediakan resep-resep bagi perilaku sosial. Budaya mengatakan kepada kita apa yang harus kita lakukan, apa yang harus kita pikirkan, kita harus menjadi apa, dan apa yang harus kita harapkan dari orang lain. Lionel Tiger dan Robin Fox (dalam Haralambos dan Heald, 1980 : 370) mengajukan teori yang menyatakan bahwa karakteristik berkenaan dengan seks, dimana pembagian peran laki-laki dan perempuan ditentukan oleh apa yang disebut “biogrammar”, susunan hayati. Menurut teori ini, laki-laki cenderung lebih agresif dan dominan apabila dibandingkan dengan perempuan yang berurusan dengan reproduksi dan pemeliharaan anak. Mereka mengatakan bahwa biogrammar mengalami penyesuaian untuk memenuhi kebuthan masyarakat yang berburu, termasuk di dalamnya pembagian kerja yang berdasarkan karakteristik seksual. Mengenai hal ini, Haralambos dan Heald (1980 : 373) menyimbulkan bahwa  norma, nilai dan peran ditentukan secara kultural dan disampaikan secara sosial. Dari sudut pandang ini, peran gender adalah sebuah produk budaya daripada produk biologi. Individu mempelajari masing-masing peran laki-laki maupun perempuan. Pembagian kerja yang berdasarkan jenis kelamin didukung dan dibenarkan oleh sistem kepercayaan dan nilai yang menyatakan bahwa peran gender adalah normal, alami, benar dan layak. Karena budaya Indonesia secara kental dipengaruhi oleh etika agama Islam akibat penduduknya didominasi oleh penganut agama Islam, dengan demikian kedudukan dan peran perempuan juga turut terbentuk dengan mengacu pada nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam.

3.2 Teori laki-laki dan perempuan
A. Teori Nurture : Laki-laki dan perempuan dalam konstruksi sosial 
Pendefinisan  laki-laki yang dilakukan oleh masyarakat patriarkhi, sesunguhnya tidak bisa dilepaskan dari tiga konsep metafisika, yakni: identitas, dikhotomi dan kodrat. Identitas merupakan konsep pemikiran klasik yang selalu mencari kesejatian pada yang identik. Segala sesuatu harus memiliki identitas, memiliki kategorisasi dan terumuskan secara jelas. Berdasarkan kategorisasi yang melengkapi atribut identas, maka lahirlah dikhotomi, pembedaan secara rigid dengan batas-batas tertentu. Konsepsi dikhotomi yang mewarnai pola pikir filsafat Barat sejak era klasik hingga modern ini, ide ini lahir dari  Plato. Implikasi dari pola pikir ini adalah adanya penempatan salah satu oposisi dalam posisi subordinat atas yang lain. Misalnya dinyatakan bahwa rasio dihukumi lebih tinggi dari emosi, jiwa lebih unggul dari tubuh, ide dianggap lebih unggul dari materi, dan seterusnya. Melengkapi dua konsepsi metafisis di atas, kodrat merupakan penyempurnanya. Kodrat atau esensi merupakan sesuatu yang diyakini dapat mendasari kenyataan apakah sebuah entitas dikatakan sebagai manuasia atau alam. Kodrat adalah sesuatu yang mutlak, given dan tidak dapat dirubah oleh konstruksi  dan kekuatan apapun. Persekongkolan antara ideologi patriarkhi dan dikhotomi, terletak pada  adanya dominasi satu pihak atas pihak lain, yang lahir dari dikhotomi ini. Kosekusesinya, relasi laki-laki dan perempuan merupakan relasi dominasi. Posisi superior yang dimiliki oleh identitas laki-laki, yakni rasional, maskulin, dan petualang publik, dianggap merupakan kualitas, sifat dan perilaku yang melekat pada identitas tersebut. Kualitas rasionalitas dan maskulinitas laki-laki, diyakini lebih unggul dari kualitas emosionalitas dan feminitas perempuan. Konsekuenasi dari keyakinan ini adalah lahirnya klaim masyarakat patriarkhi bahwa sudah kodratnya, laki-laki memiliki posisi superior, dominatif, dan menikmati posisi-posisi istimewa dan sejumlah privilege lainnya atas perempuan.

B. Teori Nature: Kelemahan Sebagai Kodrat Perempuan 
  Teori yang mengandaikan bahwa peran laki-laki dan perempuan, merupakan peran yang telah digariskan oleh alam. Munculnya teori ini, bisa dikatakan diilhami oleh sejumlah teori filsafat sejak era kuno. perempuan yang didefinisikansebagai suatu yang ganjil, menyimpang dari prototipe manusia generik adalah budak-budak dari funghsi tubuh yang pasif dan emosiaonal. Akibatnya perempuan lebih rendah dari laki-laki yang memiliki pikiranm aktif dan cakap. Dampak dari dasar filsafat di atas, maka perempuan dianggap sebagai perahu/kapal tempat menyimpan dan mengasuh benih manusia karena ia keluar tanpa jiwa. Laki-lakilah yang dianggap sebagai pencipta sejati. Memperkuat teori Yunani kuno, filosuf Yahudi, Philo (30 SM-45 M) terilfiltrasi oleh pemikiran Yunani, dengan menggabungkan ide status kekrangan an kelemahan perempuan dengan dogma teologi Yahudi. Teologi Yahudi mengganggap perempuan sebagai sumber dari segala kejahatan. Perempuan dikenal dengan tubuh yang emosi, mudah berubah, dan tidak stabil. Laki-laki adalah simbol pikiran dan aspek jiwa intelektual yang lebih tinggi. Laki-laki adalah situs dan perempuan adalah anima. Secara lebih tegas dukungannya dengan teori nature, Philomenyatakan bahwa laki-laki merepresentasikan pikiran, mengetahui dan mengenal dunia.  Definisi laki-laki dan perempuan yang demikian ini, memiliki akar yang  menghunjam pada tataran kosmologis. Dengan pikiran dunia dibangun berkaitan dengan kontinuitas, stabilitas dan kekelannya. Sebaliknya, perempuan yang direpresentaskan dengan materi, mengkategorikannya pada instabilitas dan mudah berubah. Philo secara lebih vulgar menyatakan bahwa dikhotomi laki-laki dan perempuan, berikut peran sosial yang diembannya, merupakan fakta dari alam. Menurut Philo, hukum dunia mengikuti perintah alam

Pembahasan dan Hasil 
Secara umum, pandangan tentang perempuan tentulah bisa dilihat perbedaanya, Alloh SWT menciptakan laki-laki dan perempuann dengan bentuk yang berbeda baik dari segi fisik, psikis dan mentalnya dengan kapasitas otak yang sama. Laki-laki memiliki fisik yang lebih kuat daripada perempuan, dalam kebudayaan masyarakatpun perempuan lebih dianggap cocok berada didalam rumah seperti memasak, mengurus anak, orang tua dan yang lainya berkaitan dengan pekerjaan rumah tangga daripada bekerja diluar rumah. Namun begitu banyak perempuan Madura yang lebih memilih peran ganda setelah menikah seperti mengurus rumah tangga dan bekerja diluar rumah seperti membantu suami diladang, berkebun, dan pekerja keras lainya. Jika diteliti lebih detail, perempuan Madura bisa dibilang istimewa karena jarang ditemukan dalam diri perempuan manapun. Perempuan Madura mempunyai alasan tersendiri dalam melakukan pekerjaanya selain membantu ekonomi keluarga, mereka juga tidak ingin terlalu membebani suami, hal itu mereka lakukan untuk menjunjung posisi yang tinggi dalam keluarga. Dalam perspektif psikologi, perempuan Madura yang suka bekerja keras dan tidak bergantung pada suami merupakan akibat dari hasil kontruksi sosial budaya, yang menghasilkan peran dan tugas yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, teori ini dinamakan teori nurture. Kontruksi sosial menempatkan perempuan dan laki-laki dalam perbedaan kelas. Laki-laki diidentikkan dengan kelas borjuis, sedangkan perempuan sebagai kelas proletar. Perbedaan itu menyebabkan perempuan selalu tertinggal dan terabaikan peran dan kontribusinya dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Teori ini telah mengantarkan perempuan Madura untuk berjuang menuju keadilan yang seharusnya mereka dapatkan.  Budaya Madura yang telah menanamkan budaya patriarki dimana lelaki mempunyai kedudukan lebih tinggi dari wanita, membuat munculnya perbedaan yang jelas mengenai tugas dan peranan wanita dan lelaki dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam keluarga. Budaya inilah yang membuat para perempuan wanita harus berjuang lebih keras lagi agar setara dengan laki-laki. Hal ini dilakukan untuk menghindari bentuk tindak kekerasan bagi perempuan Madura. Kekerasan terhadap perempuan Madura diMadura bisa dibilang masih ada seperti karya dari Moh. Mahfudz (Pimpinan Umum LPM SUKMA) 6 bulan lalu mempublish apa yang dialami oleh ibu Zakiyeh dan Maisaroh perempuan Madura yang mengalami tindak ketidakadilan oleh suaminya. Berita ini sebagai bukti bahwa masih ada tindak ketidakadilan yang dialami perempuan Madura. Jadi, mengenai persepsi perempuan Madura yang suka bekerja keras dan membantu suami memcari nafkah adalah bentuk kesetaraan gender yang dilakukan supaya tidak ada diskriminasi terhadap perempuan Madura dari kaum laki-laki. Kesetaraan gender adalah adalah suatu kondisi di mana porsi dan siklus sosial perempuan dan laki-laki setara, seimbang, dan harmonis. Kondisi ini dapat terwujud apabila terdapat perlakuan adil antara perempuan dan laki-laki. Kesetaraan manusia bermakna bahwa manusia sebagai mahkluk Tuhan memiliki tingkat atau kedudukan yang sama. Perlu ditekankan bahwa perempuan Madura harusnya mendapat apresiasi karena begitu berani dan tangguh dalam memperjuangkan hak-haknya namun tetap menjalankan kewajibanya sebagai istri terutama yang sudah menikah. Perilaku perempuan Madura ini tidak luput dari perjuangan para feminis zaman dulu yang juga memperjuangkan hak-haknya untuk mencapai kesetaraan gender. Berangkat dari kenyataan, para feminism berjuang menggunakan pendekatan sosial konflik, yaitu paham yang banyak dianut masyarakat sosialis komunis yang menghilangkan strata penduduk (egalitarian). Paham sosial konflik memperjuangkan kesamaan proporsional (perfect equality) dalam segala aktivitas masyarakat. Saat ini masyarakat Madura juga mengalami kemajuan dalam bidang pendidikan terutama pada perempuan Madura. Banyak perempuan Madura yang menempuh pendidikan yang setinggi-tingginya baik dalam lingkungan pondok atau negeri. Dengan begitu, perempuan Madura akan memperoleh pendidikan yang lebih baik sehingga akan memperoleh pekerjaan lebih mudah, dibandingkan dengan perempuan Madura zaman dahulu yang masih bekerja dalam keadaan yang kurang baik seperti kepanasan, harus mencangkul, dan pekerjaan keras lainya. Dengan pendidikan yang lebih baik perempuan Madura akan mendapat pekerjaan yang lebih layak pula, sehingga banyak perempuan Madura yang mendapat profesi bermacam-macam sesuai dengan bidang yang diambil. Ada yang bekerja ditatanan politik, sosial, pendidikan, kesehatan, dan lainya. 
Banyak penyebab perempuan Madura perlu menjunjung tinggi kesetaraan gender, bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Sudah menjadi kebiasaan jika laki-laki memberikan perlindungan dan memberi makan pperempuan, sehingga perempuan akan kehilangan kemandirianya untuk mengurus dirinya sendiri, perempuan akan bergantung pada laki-laki sebagai imbalanya perempuan tersebut akan menyenangkan laki-laki dalam bentuk kepatuhan dan kepasrahanya pada laki-laki. Hal ini tidak cocok dengan kepribadian perempuan Madura yang suka bekerja keras dan membantu suami, hal ini disebabkan untuk mempetahankan harta bendanya dimana perempuan Madura juga terkenal matrealis. Lama –kelamaan perempuan akan kehilangan eksistensinya karena perempuan tidak lagi memiliki kebebasan ekonomi sehingga kebebasan dalam bidang yang lain tidak akan tercapai salah satunya dalam perspektif politik baik dalam ranah politik, dimana perempuan tidak memiliki kendali atas properti dan alat produksi, maka perempuan tidak memiliki akses untuk berpartisipasi dalam ranah poltik, perempuan Madura yang yang bekerja tidak hanya ingin membantu suami tetapi mereka ingin terlihat eksistensinya dimata kelarganya terutama anak-anaknya supaya bisa dijadikan conyoh untuk anak-anaknya kelak. Pembagian kerja atas laki-laki dan perempuan terjadi karena kebudayaan yang telah mengakar di masyarakat, perempuan Madura sejak dari dlu suka bekerja keras hal ini karena budaya patrikahi yang tumbuh di masyarakat, membuat para perempuan harus berjuang untuk menjunjng eksistensinya. Budaya patriakhi telah menimbulkan beberapa kerugian bagi perempuan terutama KDRT yang sering terjadi. Budaya patriakhi ini lambat laun akan menjadi kodrat Tuhan yang tidak bisa diubah. 

Kesimpulan
Allah SWT menciptakan manusia dalam bentuk seks laki-laki dan perempuan yang secara kodrat tidak bisa dirubah. Laki-laki dan perempuan mempunyai peran sesuai dengan bentuk fisik nya. Peranan laki-laki dan perempuan bisa saja berubah sesuai keadaan masyarakat saat itu. Setiap individu mempunyai kepribadian yang berbeda-beda yang berasala dari pola asuh orang tua, lingkungan, dan masyarakat yang berasal dari kebudayaan yang berbeda pula. Sikap, kepribadian yang ditunjukkan oleh individu dari suku tertentu dalam berinteraksi dengan individu lain dari suku berbeda tidak lain karena sudah terbentuk sejak lama, individu yang hidup dalam masyarakat selalu bersama sehingga membentuk kebudayaan. Kebudayaan yang dianut setiap individu menyebabkan persepsi individu terhadap budaya lain berbeda juga, termasuk persepsi mengenai perempuan Madura. Perempuan Madura dikenal sebagai perempuan perkasa karena kepribadianya yang suka bekerja keras dan membantu suami, tidak lain karena ingin menjunjung tinggi kesetaraan gender, dimana perempuan Madura bekerja agar terlihat bermartabat dan sama dimata kelurga terutama anak-anaknya, disisi lain perempuan yang bekerja akan menunjukkan eksistensinya sehingga perempuan lebih dihormati dan menghindari kekerasan terhadap perempuan. Jadi untuk perempuan luar Madura jangan salah faham dulu ya, sama laki-laki Madura sampai  khawatir menikah dengan laki-laki Madura akan dipekerjakan seperti perempuan Madura pada umumnya, sebenarnya perempuan Madura yang bekerja bukan hanya ingin membantu suami untuk mencari nafkah melainkan sebagai perjuangan mereka untuk memperoleh kesetaraan gender sehingga mengurangi tindak kekerasan pada perempuan Madura. Ayoo mulai dari sekarang ubah maindset kalian tentang perempuan Madura dan laki-laki Madura. Jangan takut jika jodoh Kalian laki-laki Madura atau perempuan Madura. Untuk mendapat kesetaraan gender di Madura Kalian akan lebih termotivasi untuk melakukanya. Terimakasih…….
 ------------
Daftar Pustaka 
http://rifkaanisa.blogdetik.com/2012/12/18/perempuan-jawa-dalam-budaya-patriarkhi/
http://sriyadi.dosen.isi-ska.ac.id/2010/03/31/karya-ilmiah/
http://www.e-jurnal.com/2013/10/pengertian-kebudayaan.html
http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/12143/SUMARNI%20S.Pt.%20SIAP%20Burning.pdf?sequence=1

Sabtu, 22 April 2017

Bianglala Edukasi

Best Practice SMP Negeri 2 Konang Bangkalan


BEST PRACTICE
PENINGKATAN KINERJA GURU SEKOLAH 3T 
BEST PRACTICE
PENINGKATAN KINERJA GURU SEKOLAH 3T 
DALAM MELAKSANAKAN KEGIATAN PEMBELAJARANDALAM MELAKSANAKAN KEGIATAN PEMBELAJARAN
MELALUI COACHING CLINIC DI SMP NEGERI 2 KONANG BANGKALAN




Materi Selengkapnya, silahkan klik tombol download

Rabu, 12 April 2017

Bianglala Edukasi

STAMIDIYA Bangkalan Lantik Lembaga Pers Mahasiswa (LPM)



Kepengurusan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) TAMMA (Tangan Mahasiswa STAMIDIYA) STAI Al-Hamidiyah Bangkalan masa khidmat 2017-2019 resmi dilantik, bertempat di auditorium STAMIDIYA.
Kepengurusan LPM perdana tersebut dilantik langsung oleh pimpinan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hamidiyah (STAMIDIYA) Prof. Dr. KH. AA.  Dahlawie Zarkasy. Pelantikan juga dihadiri oleh Bapak  Ach. Suyuti, S.Pd.I (Wakil ketua II), Bapak Cholik S.Ag. (Wakil Ketua III) Dan jajaran civitas akademika lainnya, Juga perwakilan dari berbagai organisasi intra dan ekstra seperti BEM, DPM, PMII.
Prof. Dr. KH. AA. Dahlawie Zarkasy dalam sambutannya menyampaikan  "Pentingnya LPM dalam konteks masa kini, setidaknya dapat menyajikan berita-berita aktual, mampu memberikan konstribusi yang bernilai, bahkan akhirnya dapat membawa STAMIDIYA pada kemajuan." Ujarnya.
Sementara Ach. Fauzi sebagai ketua LPM dalam sambutannya menegaskan, "Hadirnya LPM tamma agar menjadi wadah aspirasi mahasiswa STAMIDIYA khususnya, serta menjadi media informasi yang independen sehingga mampu menyajikan informasi yang aktual dan tanpa intervensi. Selain itu, juga diharapkan menyatukan organisasi-organisasi yang telah lebih dulu terbentuk serta sama-sama berjalan mengemban amanah tanpa saling bersenggolan dengan tujuan sama-sama membawa kampus STAMIDIYA pada puncak popularitas." pungkasnya.

          
    










Senin, 10 April 2017

sholeh bagas

Sastra Madura: Inspirasi Pendidikan Karakter Menuju Kemajuan Bangsa

Foto: Gambar Dokumentasi Dela HarisMaya
Sastra Madura
Sastra daerah baik lisan maupun tulisan merupakan kekayaan budaya daerah yang kelestariannya ditentukan oleh pendukung budaya daerah yang bersangkutan. Sastra daerah menyimpan nilai-nilai kedaerahan dan akan memberikan sumbangsi yang sangat besar bagi perkembangan sastra di daerah dan Indonesia pada umumnya. Dengan sastra daerah, dapat diketahui asal-usul suatu daerah dengan berbagai kearifan yang dicurahkan lewat berbagai mitos, legenda, dongeng, dan riwayat termasuk di dalamnya permainan rakyat dan nyanyian lokal.
Berbicara mengenai sastra daerah, tentunya tidak terlepas dari bahasa yang menjadi akar dari sastra daerah itu sendiri. Selain itu bahasa juga menjadi simbol suatu peradaban bangsa. Bahasa Madura mempunyai sistem pelafalan yang unik. Begitu uniknya sehingga orang luar Madura yang berusaha mempelajarinyapun mengalami kesulitan, khususnya dari segi pelafalan tadi. Bahasa Madura mempunyai lafal sentak dan ditekan terutama pada konsonan [b], [d], [j], [g], jh, dh dan bh atau pada konsonan rangkap seperti jj, dd dan bb . Namun penekanan ini sering terjadi pada suku kata bagian tengah. Sedangkan untuk sistem vokal, Bahasa Madura mengenal vokal [a], [i], [u], [e], dan [o].
Secara umum, terdapat dua jenis sastra Madura, yaitu sastra Madura populis dan sastra Madura partikularis. Disebut Populis karena sastra Madura jenis ini dikenal luas oleh segenap lapisan masyarakat Madura. Disebut partikularis karena sastra jenis ini dikenal hanya oleh beberapa lapis masyarakat dan biasanya oleh generasi tua (Iqbal Nurul Azhar: 2013)
Contoh dari sastra Madura populis adalah dungngeng (dongeng). Dungngeng adalah cerita rakyat yang mengandung pesan-pesan moral dan harapan dan sering didendangkan dalam perkumpulan-perkumpulan bahkan dalam keluarga. Dungngeng ini merupakan bingkai dari kisah-kisah kehidupan masyarakat Madura di masa lampau. Beberapa dungngeng Madura yang terkenal adalah dungngeng kepahlawanan pangeran Tronojoyo, Potre Koneng, Asal muasal kerapan sapi, Sakera, Ke’ lesap, Angling Darma Ambya Madura, dan lainnya.
Contoh yang kedua dari sastra populis adalah syi’ir. Syi’ir merupakan rangkaian kata-kata indah yang membentuk kalimat-kalimat yang terpadu dan biasanya di baca di pesantren-pesanten, majlis ta’lim, dan walimatul urs. Si’ir Madura tersusun dari 4 padda/biri (baris). Tiap padda terdiri dari 10 keccap (ketukan). Tiap akhir suara pada padda mengandung pola a – a – a – a. Isi syi’ir bermacam-macam, bergantung dari selera dan kesenangan serta tujuan dari pembuatnya. Jenis-jenis syi’ir beraneka ragam seperti syi’ir yang menceritakan kisah nabi, cerita orang mati siksa kubur, perhatian pada pendidikan, agama atau akhlak. Contoh-contoh syi’ir adalah sebagai berikut
Pong-pong gi’ kene’ gi’ ngodha-ngodhaPabajeng nyare elmo akida
Manabi nyaba dhapa’ gan dhadha
Kastana ampon bi’ tadha’padha
Mumpung masih kecil masih muda-mudaRajinlah mencari ilmu akidah
Apabila nyawa telah sampai di dada
Menyesalpun tidak akan ada manfaatnya
Sastra Madura dapat memberikan motivasi kepada pembaca, pendengar, pencipta dan penggemarnya. Berikut adalah beberapa contoh karya sastra yang memikili pesan moral dan motivasi-motivasi:
a) Puisi Pantun Madura
Pantun Madura dikenal juga sebagai sendhilan. Sendhilan digunakan sebagai salah satu bentuk komunikasi antarorang Madura. Keunikan dari komunikasi sendhilan adalah komunikasi jenis ini dilakukan dengan menggunakan pantun atau paparegan. Biasanya, sendhilan dilakukan antara kaum laki dan kaum perempuan dengan cara berbalas-balasan pantun.
Di dalam sebuah pantun ada yang dinamakan  andheggan (bait) pantun dan  padda/biri (baris) pantun. Setiap andheggan terdiri dari empat padda, dan pada tiap-tiap padda biasanya berisi delapan keccap (ketuk/suku kata). Lafal (suara/bunyi) yang berada di akhir padda pertama harus sama dengan lafal suara di akhir padda tiga. Lafal suara akhir padda dua sama dengan lafal suara pada akhir padda keempat (Jasin, 2005).
Pantun yang digunakan dalam sastra dan budaya Madura ada 4 jenis, yaitu: (1) Pantun agama: berisi ajaran dan pesan-pesan agama,  (2) Pantun baburugan (nasehat): berisi nasehat yang mengandung aturan, ajaran  budi pekerti, pendidikan dan akhlak, (3) Pantun sekaseyan: digunakan oleh para pemuda ketika jatuh cinta, (4) Pantun palenggiran: berisi kalimat yang dapat membuat orang tertawa karena lucu.
Contoh puisi pantun Agama
Ngare’ lalang ka PangleghurNompa’ rata asamperan
Ta’ elanglang dika lebur Kor ja’ loppa dha’ Pangeranna
Mengambil ilalang ke pangleghurNaik rata memakai kain samper
Tidak dihalangi anda senang Asalkan jangan lupa pada penciptanya
Contoh Pantun Babhurugan
Ngala’ sere epapesaEsarenga gan sakone’
Knesserra oreng towa Semeyara kabit kene’
Ngambil sirih dipisahkanDisaring sedikit demi sedikit
Sayangilah orang tua yang memelihara sejak kecil
 Contoh Pantun Sekaseyan
Pasar bara’ pasar PakongMelle jamo copa’agi
Mon ta’ endha’ enggi ampon Ding tatemmo sapaagi
Pasar barat pasar PakongBeli jamu diludahkan
Kalau tidak mau tidak apa-apaKalau bertemu sapalah
            Contoh Pantun Plenggiran
 b) Paparegan
Paparegam adalah salah satu bentuk sastra Madura yang biasa digunakan untuk memberi nasehat. Bentuk paparegan  ada dua yaitu:
1)      Paparegan yang terbentuk dari dua padda/biri (baris) dalam satu andheggan     (bait). Padda/biri pertama adalah samperan/bibidan. Padda/biri kedua adalah isi/teggessa
2)       Paparegan yang terdiri dari 4 padda/biri dalam satu andheggan. Padda/biri 1 dan 2 berupa samperan/bibidan. Sedang padda/biri 3 dan 4 adalah isi/teggessa dari Paparegan (Jasin, 2005).
Paparegan yang terdiri dari 4 padda/biri memiliki bentuk yang hampir sama seperti pantun. Keduanya sama-sama mengandung guru sastra dan guru sowara. Bedanya, jika pantun ditentukan berapa jumlah keccap (ketuk/suku kata), maka dalam paparegan tidak ditentukan banyaknya keccapnya.
Contoh Paparega yang terdiri dari 2 padda
 Contoh Paparega yang terdiri dari 4 padda 
c) Saloka
Saloka adalah kata-kata sastra yang  berisi petuah-petuah bijak, dan penuh makna. Sering disampaikan dalam banyak acara dan dalam tulisan-tulisan sastra Madura. Kebenaran dari isi petuah-petuah bijak ini telah banyak dibuktikan  sehingga orang yang mendengar atau membaca akan selalu membenarkannya dan meyakini. Contoh
1)      Juda nagara potos: hokum nagara ta’ ekenneng tandhinge (Yuda Negara Putus; Hukum negara tidak bisa ditandingi)
2)      Namen cabbi molong cabbi: jube’na oreng gumantong dhari lakona dibi’ (Menanan cabai menuai cabai; keburukan orang tergantung dari tingkah lakunya sendiri)
3)      Mon bagus kodu pabagas: mon oreng bagus robana kodhu pabagus reya Gulina (Orang yang wajahnya bagus seharusnya tingkah lakunya juga bagus)
d)Tembhang
Tembhang tidak jauh berbeda dengan syi’ir. Biasanya tembhang dibaca ketika seseorang mempunyai hajat seperti akan mengawinkan anak atau yang lainnya. Tembhang ini di baca oleh dua orang atau lebih sepanjang malam.
Ada 3 jenis jenis tembhang yang dikenal oleh orang Madura. Yaitu Tembhang Macapat, Tembhang Tengnga’an, dan Tembhang Raja. Tembhang Macapat terdiri dari 9 macam jenis  antara lain: (1) Tembhang artate, (2) Tembhang Maskumambang, (3) Tembhang Senom, (4) Tembhang Kasmaran, (5) Tembhang Salanget/Kenanthe, (6) Tembhang Pangkor (7) Tembhang Durma, (8) Tembhang Mejil, (9) Tembhang Pucung. Tembhang Tengnga’an terdiri dari ada 5 jenis yaitu (1) Tembhang Jurudemmong (2) Tembhang Wirangrong (3) Tembhang Balabak (4) Tembhang Gambu (5) Tembhang Magattro. Adapun tembhang yang terakhir adalah tembhang Raja. Yang termasuk tembhang jenis ini hanya ada satu yaitu tembhang Giriso (Jasin, 2005). Yang paling banyak digunakan dan dibahas dalam buku kesusastraan Madura adalah Tembhang Macapat yang berjumlah sembilan. Dalam makalah ini, akan didiskusikan secara umum ciri kesembilan jenis tembang tersebut.
Tembhang Artate memiliki arti pengharap kebaikan. Tembhang ini biasanya digunakan untuk menyebarkan nasihat baik, bisa juga digunakan untuk kagemaran, juga dipakai untuk pembuka di tengah maupun di akhir cerita. Tembhang Maskumambang memiliki pengertian prihatin, kondisi yang sangat susah dan mengenaskan. Tembhang Senom mengandung kiyasan atau parsemon, sangat bagus digunakan untuk ajaran kebatinan.
Tembhang Kasmaran memiliki arti asmara atau kasemsem, tembhang ini menungjukkan perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta. Tembhang Salanget/Kenanthe memiliki arti kanthe dan longet. Tembang ini digunakan untuk ajaran kebaikan, kegandrungan, kerukunan dan lalonget. Tembhang Pangkor memiliki arti ekor. Tembang ini digunakan untuk menunjukkan perasaan keras, marah, dan menghadapi perang. Tembhang Durma memiliki arti sifat macan, sedih, sangat marah, perang. Tembhang Mejil memiliki arti keluar. Digunakan untuk kegemaran, kesusahan dan prihatin. Tembhang Pucung memiliki arti keluar, bersifat lebih ringan, dan biasanya berupa tebak tebakan atau teka-teki.
Tiap-tiap tembhang memiliki aturan tersendiri baik itu berupa jumlah andheggan maupun paddha/biri. Pada tiap-tiap paddha, guru bilangan telah ditentukan, demikian juga guru lagunya. Yang dimaksud guru bilangan adalah banyaknya ketukan pada tiap padda. Yang dimaksud guru lagu adalah suara pada tiap akhir padda. Contoh aturan pada tembhang (dalam hal ini Pucung):
Bapa’ pucung ropana amendha gunong
Tadha’ reng se tresna
Mala kabbhi pada baji’

Ding kanggunan elos-ellos ngesprengesan

Sifat Pucung: (a) Andheggan: 4 padda/biri (b) Padda no 1 guru bilangannya 12 ketuk mengandung guru lagu o atau u (c) Padda no 2 mengandung guru bilangan 6 ketuk. Mengandung guru lagu a (d) Padda no 3 mengandung 8 ketuk, mengandung guru lagu e atau i (e) Padda no 4 mengandung guru lagu 12 ketuk, mengandung guru lagu a (Jasin, 2005). Contoh tembhang lainnya (dala hal ini Slanget dan Maskumambang bisa dilihat di bawah ini:
Slanget
Tabbuwanna pon ngaromongNajagana padha oneng
Sadajana reng pettengan
Swarana nyaman ka kopeng
Terros kerkas tale rassa
Otek somsom bara ate
Musiknya telah berkumandangPemainnya telah paham
Semuanya gelap
Suaranya merdu di telinga
Menggetarkan hati
Otak sumsum paru-paru hati
Mas kumambang
Adhu adhu benne kaka’ benne ale’Benne sana’ kadhang
Mon mate noro’ nangesen
Marga melo kaelangan
Aduh aduh bukan kakak bukab adikBukan snak sudara
Jika meninggal ikut menagis
Karena ikut merasa kehilangan

Perilaku Menyimpang pada remaja
Menurut Gillin Perilaku menyimpang adalah perilaku yang menyimpang dari norma dan nilai sosial keluarga dan masyarakat yang menjadi penyebab memudarnya ikatan atau solidaritas kelompok.Perilaku menyimpang yang juga biasa dikenal dengan nama penyimpangan sosial adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan atau kepatutan, baik dalam sudut pandang kemanusiaan (agama) secara individu maupun pembenarannya sebagai bagian daripada makhluk sosial (Wikipedia: 2013).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun di tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat, misalnya seorang siswa menyontek pada saat ulangan, berbohong, mencuri, dan mengganggu siswa lain.
Perilaku menyimpang pada remaja terjadi pada masyarakat dikalangan atas maupun dikalangan bawah. Telah banyak terjadi kasus pergaulan bebas di kalangan remaja dan telah mencapai titik kekhawatiran yang cukup parah, terutama tindakan seks bebas. Pelakunya bukan hanya kalangan SMA, bahkan sudah merambat di kalangan SMP. Sehingga banyak kasus remaja putri yang hamil diluar nikah (Iis Susanti: 2015).
Masa remaja hendaknya digunakan sebaik mungkin untuk menuntut ilmu dan bersosialisasi pada tempat yang seharusnya agar tercipta kepribadian yang santun dan agamis, namun para remaja telah diracuni oleh budaya asing (westernisasi) sehingga mereka berubah haluan dari kepribadian bangsa timur yang tertutup menjadi budaya barat yang budaya berpakaiannya terbuka atau transparan. Menurut Fanggidae hal tersebut disebut Pergeseran Nilai akibat majunya arus informasi dari dunia internasional (Fanggidae, 1993:6).
Sosialisasi yang dijalani individu tidak selalu berhasil menumbuhkan nilai dan norma sosial dalam jiwa individu. Akibat kegagalan mensosialisasikan nilai dan norma sosial itu, kadang kala individu melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kaidah yang berlaku di masyarakat atau yang disebut dengan penyimpangan sosial atau perilaku menyimpang (Iis Susanti: 2015).
Remaja memerlukan cerminan yang baik, lingkungan yang baik akan memberikan dampak yang baik. Remaja bertikah laku menyimpang tentunya ada suatu penyebab baik internal maupun eksternal.



Faktor internal penyebab kenakalan remaja (Solusi Remaja: 2016), yaitu:
a)      Krisis identitas
Perubahan secara fisik maupun sosiologis pada remaja memungkinkan terbentuknya dua hal yang terjadi. Pertama, terbentuknya perasaan terhadap konsistensi pada kehidupannya. Yang kedua adalah tercapainya identitas peran. Seorang remaja akan mengalami pemberontakan ketika mengalami ketidak seimbangan antara konsistensi kehidupan dan identitas peran.
b)      Kontrol diri yang lemah
Dalam berperilaku seseorang membutuhkan kontrol. Remaja yang kurang bisa menilai perilaku mana yang bisa dilakukan dan mana yang tidak akan lebih mudah melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang. Kontrol diri dalam remaja diperlukan untuk mencegah remaja dalam melakukan perilaku menyimpang yang dipengaruhi oleh dalam diri sendiri maupun lingkungan.
Faktor eksternal penyebab kenakalan remaja(Solusi Remaja: 2016), yaitu:
a)      Problem dalam Keluarga
Permasalahan dalam keluarga seringkali berdampak pada kondisi psikologis remaja. Pola asuh tidak sesuai hingga perceraian orangtua berdampak pada pemberontakan remaja dengan melakukan perilaku “nakal”.
b)      Pola pendidikan sekolah yang tidak sesuai
Pola pendidikan otoriter yang cenderung menggunakan kekerasan dalam proses belajar mengajar bisa menjadi faktor timbulnya agresifitas remaja yang tinggi. Remaja akan cenderung melampiaskan tekanan yang dialami di sekolah dalam bentuk kenakalan. Teman sebaya yang kurang baik Teman sebaya memiliki pengaruh yang kuat pada perilaku remaja. Remaja yang memiliki teman sebaya yang kurang baik seringkali terpengaruh pada perilaku yang menyimpang. Teman sebaya merupakan tolak ukur apakah remaja diterima dalam lingkungannya atau tidak. Tak jarang remaja demi melakukan apa saja demi bisa diterima oleh teman sebayanya.
c)      Lingkungan tempat tinggal yang buruk
Karakter seorang remaja juga dipengaruhi oleh lingkungan dimana tempat ia tinggal. Remaja yang tinggal pada lingkungan yang penuh dengan kriminalitas cenderung akan memiliki perilaku kriminal pula. Tak jarang perilaku menyimpang remaja dipengaruhi oleh lingkungan yang tidak baik.
Pendidikan karakter
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian (KBBI). Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UU No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS).
Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara. menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik-baik yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku.
Pendidikan karakter adalah segala upaya yang bisa dilakukan untuk mempengaruhi karakter anak didik. Pendidikan karakter merupakan suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan menerapkan nilai-nilai etika atau budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter sangat berperan penting dalam pembangunan suatu bangsa. Bangsa yang memiliki karakter dan kepribadian, maka akan unggul dibandingkan dengan bangsa yang belum memiliki karakter dan kepribadian.
Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education)  dalam konteks saat ini sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas, oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan karakter.
Pendidikan karakter merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan di dunia ini. Karena dengan adanya pendidikan karakter inilah manusia mampu berperilaku sesuai dengan karakter bangsa. Sehingga identitas dalam suatu Negara kita tercinta ini Negara Indonesia menjadi jelas. Sastra Madura merupakan karya sastra yang kaya dengan pesan moral. Ajar-ajaranya yang mengajak kea rah kebaikan. Dalam hal ini pendidikan karakter melalui karya sastra Madura perlu di tanamankan kepada remaja. Pentingnya pendidikan karakter ini ditanamkan agar remaja sebagai generasi penerus bangsa tidak terjerumus ke arah perilaku yang tidak sesuai dengan karakter bangsa kita bangsa Indonesia yang terkenal dengan kesopanan dan keramahannya.

 Dituli Oleh:
Nama : Dela Harismaya
Tempat dan tanggal lahir : Probolinggo,03 Agustus 1997
Status : Mahasiswa
Asal Institusi :  Universitas Trunojoyo Madura

Atikel ini diikut sertakan dalam Kegiatan IMPEG Award Bidang LKTI sebagai Juara I Yang diselenggarakan oleh Studi Riset Pengembangan Madura (SRPM) pada Hari Minggu 15 Januari 2017