Tampilkan postingan dengan label HukumKriminal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HukumKriminal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 September 2016

Info Madura

Ketika Korupsi Sudah Membudaya

Berangkat dari sebuah polemik yang terjadi di Negara kita tercinta tetang sebuah tatanan pemerintahan dimana yang menjadi roda penggerak dalam berjalannya sebuah tatanan negara yang sejak lama menganut sebuah system demokrasi, itu selalu tersandung sebuah kasus. Kita sebut kasus tersebut dengan istilah yang populer dikalangan masyarakat sendiri yaitu dengan kata “Korupsi”. Dalam sebuah kamus ilmiah populer disebutkan bahwa arti dari kata korupsi itu sendiri adalah  Kecurangan; penyelewengan atau penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan diri. Sedangkan pelakunya,atau penyelewengnya dikatakan dengan Koruptor. Dari situ sudah jelas bahwasanya istilah korupsi memang diperuntukkan untuk mereka-mereka yang tidak jujur dalam mengemban tugas mereka. Sudah banyak dari pejabat-pejabat yang berada dalam tatanan pemerintahan negara kita yang tidak jujur dalam melaksakan tugasnya, dan itu semua bisa kita ketahui dari media massa baik dari Koran-koran, radio maupun televisi. Tak surut-surutnya pemberitaan tentang korupsi di media massa memang menandakan bahwa Negara kita tidak hanya dilanda sebuah musibah banjir, longsor, kebakaran dan lain sebagainya, akan tetapi korupsi juga melanda Negara kita.
Disamping itu istilah lain yang mungkin sepadan jika disandingkan dengan kata korupsi adalah kata budaya. Mengaca pada sebuah sejarah dimana pemerintah pada setiap periode pasti tersandung kasus korupsi, namun kasus korupsi agak populer sejak akhir akhir ini dikarenakan adanya sebuah institusi yang bertugas memerikasa jalannya keuangan Negara kita yang dikenal dengan KPK (Komisi Pemberantas Korupsi) sejak itu terbentuk dan mulai bekerja sudah berapa puluh pemerintah yang masuk media massa dan penjara dikarenakan kasus korupsi. Kata budaya itu sendiri memang mempunyai arti sebuah kebiasaan yang dimiliki oleh sebuah kelompok masyarakat atau Negara,dimana budaya tersebut menjadi pembeda  antara suatu kelompok dengan kelompok lain atau diistilahkan dengan sebuah identitas suatu kelompok.
Ketika sebuah korupsi sudah menjadi kebiasaan dari para pejabat-pejabat yang menjalankan pemerintahan maka pantaslah dikatakan bahwa korupsi sudah menjadi budaya Negara kita. Indonsia memang dikenal sebagai sebuah Negara yang menduduki peringkat kesepuluh besar tentang kasus korupsinya. Dari itu kita jangalah bangga ketika Negara kita masuk pada nominasi Negara yang banyak koruptornya. Dan itu menjadi sebuah telaah bagi penerus-penerus bangsa khususnya para kader-kader yang masih berada di perguruan tinggi ataupun di sekolah-sekolah.
Melihat pada kejadian di atas patutlah kita sebagai penerus bangsa berfikir apa yang menjadi penyebab turun temurunnya kasus korupsi, apakah hal itu disebabkan oleh pendidikan yang ada di Negara kita?, atau disebabkan lingkungan ataukah disebabkan oleh sebuah system demokrasi itu sendiri?. semestinya kita sebagai penerus harus berfikir seperti itu. Memang Negara kita menganut tatanan demokrasi yang semboyannya “dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat”. Melihat keadaan sekarang lebih lebih dalam hal (pemilu) “pesta rakyat”  dimana pemilihan yang dilakukan mulai dari kepala desa sampai ke presiden semua atas suara rakyat. Namun yang terjadi sekarang pemilihan tidaklah dengan hati nurani melainkan karena sebuah uang mereka memilih pemimpin mereka, atau istilah skarang dikenal dengan money politic. Mungkinkah sebuah kejadian yang sangat ironis yang melanda Negara kita disebabkan oleh itu?. Kalau memang hal itu yang menyebabkan maraknya kasus kasus korupsi, maka hendaknya kita selaku penerus haruslah melenyapakan hal itu,agar Negara kita tidak dikenal sebagai Negara yang dihuni oleh para koruptor-koruptor yang suka menggerogoti hak-hak dan uang rakyat.
Dan semestinya yang dilakukan oleh generasi selanjutnya adalah menghilangkan hal-hal yang berbau negative khususnya yang merugikan masyarakat. Apalagi kita yang beragama islam. Bukankah sudah jelas apa yang telah tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an dan apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad bahwasanya kita tidak boleh mengambil hak hak orang lain. Teringat sebuah kisah antara seorang guru dan muridnya dimana seorang guru tersebut menginap di rumah seorang muridnya, ketika tengah malam dia ( muridnya) keluar ingin ke kamar mandi dan ia melihat gurunya tidak tidur, namun ia tidak menegur gurunya itu dikarenakan takut mengganggu, dan dia beranjak ke kamarnya lagi. Kemudian dia keluar untuk sholat subuh dan ternyata dia melihat gurunya masih dalam keadaan yang sama, di kamar tersebut ada sebuah Al-Quran yang barada di tempat tidurnya sehingga guru tersebut tidak bisa tidur karena tidak bisa membaringkan tubuhnya. Kemudian murid yang melihat gurunya tidak tidur memberanikan diri untuk bertanya kenapa beliau tidak tidur.. guru tersebut memberi tau apa yang ada dikamarnya sehingga dia tidak bisa tidur. Lalu muridnya itu berkata “ kenapa tidak anda pindahkan A-Quran tersebut”, kemudian guru tersebut menjawab “itu bukanlah milikku dan itu bukanlah hak aku untuk memindahkannya”. Kemudian murid itu berkata “ kenapa anda tidak memintaku untuk memindahkannya. Guru itu menjawab “aku adalah seorang tamu aku tidak ingin mennganggu istirahatmu”, maka menangislah seorang murid tersebut mendegarkan hal itu, dia adalah gurunya akan tetapi dia tetap menjaga etikanya dan tidak berani menyentuh apa yang bukan haknya. Maka dari itu hendaknya kita bisa mencontoh hal tersebut sehingga kita bisa terjaga dan tidak tidak suka mengambil hak-hak orang lain. Maka dari itu kita sebagai generasi muda hendaknya menanamkan kedisiplinan dan ketakwaan serta kahati-hatian dalam diri kita tentang segala hal utamanya dengan sesuatu yang berkenaan dengan hak-hak orang lain.
Jikalau kita sudah menanamkan hal yang diatas dalam diri kita maka pastilah kita sebagai generasi muda dapat mengubah sebuah kebiasaan yang tidak baik dalam tatanan Negara kita khususnya yang berkaitan dengan korupsi. Dengan itu kita bisa menghilangkan budaya korupsi dan menjadikan Negara kita seperti apa yang disebutkan dalam Al-Quran yaitu Baldatun toyyibatun wa robbun Ghofur yaitu Negara yang baik.*

Oleh: Lutfi Aziz
Mahasiswa STAIN Pamekasan

Selasa, 20 September 2016

Info Madura

Polsek Palengaan Ciduk Warga Terduga Terima Titipan Narkoba

Pamekasan|INFOMADURA.com: Seorang warga desa Palengaan Laok kecamatan Palengaan Kabupaten Pamekasan berinisial MS diciduk polisi setelah yang bersangkutan diduga menerima titipan narkoba jenis sabu milik temannya. Terduga diciduk anggota polisi sektor Palengaan Selasa (20/9/2016) untuk dilakukan penyidikan. Selanjutnya, untuk pengembangan penyidikan diserahkan kepada satuan Narkoba Polres Pamekasan.
"Benar ada mas, tapi perkaranya kami serahkan ke sat Narkoba Polres Pamekasan untuk pengembangan lebih lanjut". Kata Kapolsek Palengaan. Iptu H. Ach Soleh kepada infomadura.com.
Sementara itu, Kabid Pelayanan yang sekaligus anggota keamanan Desa Palengaan Laok, Mohammad Hewi meminta kepada pihak yang berwajib untuk mengusut tuntas peredaran narkoba di Palengaan Laok, karena menurutnya Palengaan Laok adalah desa yang masyarakatnya rata-rata santri. Sehingga tidak boleh tercemar dengan pengedaran dan bahkan penggunaan narkoba di daerahnya.
"Saya minta kepada penegak hukum untuk mengusut tuntas peredaran narkoba di desa ini, karena desa ini banyak santrinya maka kami tidak ingin desa ini tercemar oleh oknum penduduk desa pengguna narkoba". Kata Mat Hewi

Minggu, 18 September 2016

Info Madura

Bobol Banyak Rumah, Maling Ditangkap Karena Sandal Jepitnya Ketinggalan

PAMEKASAN|infomadura.com: Aparat desa berhasil menangkap pelaku pembobol rumah dan toko yang akhir-akhir ini meresahkan warga desa Palengaan laok Palengaan Pamekasan. Pelaku berinisial RFQ (kurang lebih 28 thn), warga dusun Prapatan Palengaan Laok ditangkap di rumahnya dan langsung di bawa ke balai desa Palengaan Laok.
Pelaku ditangkap, Minggu (18/09/2016) siang oleh Kabid Pelayanan, Mohammad Hewi. Penangkapan maling tersebut berawal dari tanda bukti sandal pelaku yang ketinggalan saat melakukan aksinya di rumah Halili Maulana, warga dusun Nagasar Palengaan Laok. Sandal bermerek Ando tersebut ketinggalan di rumah Halili saat membobol tokonya setelah berhasil membawa kabur sebuah laptop, sejumlah uang, dan puluhan pack rokok berkelas. Namun, sial bagi ayah dari satu anak ini harus berurusan dengan penegak hukum saat kedoknya diketahui.
“pelaku saya samperin ke rumahnya namun saat ditanya baik-baik dia malah tidak mengaku meski saya sudah punya alat bukti berupa sandal jepit yang informasinya adalah milik pelaku. Karena tidak mengakui perbuatannya, maka saya dengan aparat desa yang lain sepakat untuk membawanya ke balai desa untuk dimintai keterangan dan saat di balai dia mengakui perbuatannya,” kata Kabid Pelayanan, Moh. Hewi saat dihubungi oleh INFOMADURA.com, Minggu malam.
Untuk selanjutnya, kata Mat Hewi (panggilan akrab Mohammad Hewi) mereka digiring ke polres Pamekasan guna menjalani pemeriksaan dari pengakuannya, sudah beberapa tempat yang jadi target aksinya. Pelaku melakukan pencurian pada malam hari saat kondisi rumah warga sangat sepi. (Bkr)

Kamis, 08 September 2016

Info Madura

Maling Terus Resahkan Warga Palengaan Laok

Pamekasan | Infomadura : Masyarakat Desa Palengaan Laok Kecamatan Palengaan Pamekasan diresahkan dengan aksi pencurian. Setelah beberapa waktu yang lalu pencurian sepeda motor milik Moh. Idris (17 tahun) dan satu motor lagi milik Moh. Zai hilang di daerah Saba Tambak, kini keresahan itu kembali dirasakan oleh beberapa KK di dusun Parapatan yang pada Rabu malam (07/09) rumahnya dibobol maling.
"Ada apa dengan desaku?". Tulis Hozairi di akun media sosialnya.
Bermula dari status ini, infomadura.com berhasil mewawancarai pria yang akrab dipanggil Datook ini, ia menjelaskan bahwa di daerahnya seringkali terjadi kemalingan.
Kali ini, jelasnya, menimpa tetanggaku. Ada dua rumah yang dalam satu malam dibobol maling. Rumah terbobol adalah rumah Maskur, dan kios pasngkas rambut milik Moh. Ra'i. Keduanya berada di sebelah  selatan lapangan garuda. Palengaan Laok yang awalnya dikenal dengan daerah aman dan tentram kini rakyatnya harus mengalami keresahan.
Maling tersebut diprediksi maling yang sama, karena rumah korban berjejeran. 
Ia juga berharap, Masyarakat harus berhati-hati dengan segala bentuk motif pencurian dan ia pula meminta para pejabat desa Palengaan Laok untuk mengembalikan desanya pada kondisi awal, yang penuh ketentraman dan keamanan agar tidak semakin banyak korban pencurian. (AB/Infomadura)

Minggu, 31 Juli 2016

sholeh bagas

SAMPANG, CURANMOR LAGI-LAGI TERJADI

Gambar Sepeda Motor yang hilang
Infomadura-Sampang. Curian sepeda motor (Curanmor) lagi-lagi terjadi, pada hari minggu tanggal 31 Juli 2016 sekitar pukul 12.00 wib  curanmor terjadi di jln KH. Wachid Hasyim sampang, pada saat korban bekerja berjualan tebu.

Sepeda Motor Yamaha Warna Merah Perak (seperti gambar diatas) milik Abd Wafi digunakan setiap hari untuk berjualan tebu, sedangkan sepeda motor miliknya seperti biasa dipakir ditempat yang sama, namun kali ini nasib na’as menimpanya.
"ketika hendak memindahkan sepeda motor yang diparkir bersebrangan dengan tempat jualan dan mengetahui sepeda motor saya sudah tidak ada ditempat hanya tinggal helm yang ada di tempar sepeda motor tersebut sedang diparkir" ujarnya Abd Wafi,
Untuk informasi sepeda motor tersebut dengan Merk Yamaha Jupiter warna merah perak tahun. 2009 dengan nomor polisi M-3397-PD. Apabila anda yang melihat sepeda motor dengan cirri-ciri diatas mohon infonya kepada Ikhwan 085204985705.

Kejadian ini juga sudah di laporkan kepada POLRES Sampang.(ikh/sb)

Kamis, 19 Mei 2016

Info Madura

Indonesia Gawat Darurat (IGD), Moral Remaja Semakin Hancur

Apa kabar Indonesia? Apa kabar orang tua? Apa kabar guru? Apa kabar semuanya? Masih sangat fresh dibicarakan bagi kita bahwa akhir-akhir ini interaksi guru dan siswa dibatasi oleh perlindungan hak asasi manusia (HAM). Ingat, Bapak Ibu guru, jangan sampai bertindak keras saat mengajar ya....!!! Bisa-bisa mendekam di penjara.
Berbicara pengalaman yang sudah kita alami bersama, dulu saat kita sekolah. Masih ingat kan? Semoga masih mengingatnya...!!! Dulu, ada guru yang sering memukul kita pakai penggaris, buku pelajaran, sajadah, irisan bambu,ranting pohon, cubitan di bagian dada bahkan tamparan. Saat itu, guru menggunakan cara itu untuk menyadarkan siswanya agar tidak nakal lagi (Katanya). Meski terjadi seperti itu, tidak ada orang tua berani datang ke sekolah untuk meminta pertanggung jawaban guru yang sudah memukuli anaknya apalagi datang ke kantor polisi untuk memperkarakan kasus yang sudah menimpa anaknya. Kita ketahui bersama bahwa dulu semua guru sangat wibawa dan penuh karismatik, tapi saat ini guru seakan-akan tidak ada kewibawaannya. Saat siswa melakukan kesalahan mulai dari kesalahan ringan hingga kesalahan berat sekalipun, guru tidak boleh menghukumnya dengan alasan pelanggaran hak asasi manusia. Contoh kasus, siswa merayakan kelulusan dengan pesta minuman keras, corat-coret baju dan bahkan seks bebas, guru hanya bisa menceramahi siswanya dan menahan ijazahnya. Apakah cara itu bisa memberikan efek jera kepada siswa yang sudah melanggar? Tentu tidak, justru malah sebaliknya. Efek negatif akan lebih banyak menyerang siswa lainnya dan bahkan adik-adik kelasnya.
Suatu saat terjadi obrolan singkat antara saya dengan seorang guru di sebuah sekolah di Sampang, sang guru berkata, “Saat ini murid sudah tidak sopan lagi terhadap gurunya, karena mereka tahu gurunya tidak akan berani membentak, memarahi, mencubit bahkan menampar mereka, karena bisa menjadi pelanggaran HAM, saat ini murid tidak lagi ada keseganan kapada guru, murid sudah berani meremehkan dan mengolok-olok gurunya di sekolah atau di dalam kelas saat proses belajar mengajar terjadi, berani naik ke atas meja, bahkan menganggap guru seakan tidak ada di dalam kelas, kadang ada guru yang keluar dan menangis dengan kondisi siswanya yang sedemikian rupa, mendidik dengan menasihati hanya sia-sia dan berbusa mulut tidak ada guna. Ketika dikerasin seakan guru tersebut kejam dalam mendidik, guru serba salah. Jangan dicubit, nanti melanggar HAM, jangan dimarahi, nanti melanggar HAM, sedangkan perlindungan hukum terhadap guru yang terdiskriminasi sangatlah lemah,” ujar sang guru.
Dari perbincangan itu, guru seakan-akan tidak bisa merubah sikap siswa kekinian. Dan dapat ditarik kesimpulan bahwa hukum di Indonesia terlalu memanjakan rakyatnya, yang terbukti berkasus berat malah dimanja seakan-akan memanjakan pacarnya yang walaupun sudah kentut di samping kekasihnya lantas kekasihnya bilang, kentutmu harum. Masih ingat kan saat Zaskia Gotik merubah pancasila sila kelima dengan "bebek nungging" lalu dia dibalas dengan ganjaran menjadi duta pancasila?, Kemudia masih ingat juga siswi SMA yang mengaku anak polisi dan membentak aparat lalu ia dijadikan sebagai duta narkoba? Miris sekali melihat kejanggalan yang menimpa negeri ini. Guru sudah tidak bisa berbuat apa-apa selain menyampaikan pembelajaran di dalam kelas. Apakah cara itu bisa menjamin siswanya bermoral? Pertanyaan ini mungkin sudah menjadi pertanyaan yang hampir ada di benak masyarakat. Karena pada kenyataannya, saat guru menyampaikan materi di dalam kelas dan siswanya tidak memperhatikan pelajaran yang diajarkan dengan berbagai kenakalan terjadi, seperti siswa tidur, ngobrol, mengisi teka-teki, membaca buku lain, bermain dan lainnya kemudian guru hanya diam saja dan membiarkan kenakalan itu terjadi. Bukan tidak ada alasan bagi guru membiarkannya, jelas mereka tidak ingin profesinya terancam. Karena jika bertindak dengan mencubit maka ia takut dibilang anarkis yang kemudian harus mendekam di penjara. Lama-lama, banyak duta-duta kehormatan yang disebabkan oleh kenakalan remaja yang sudah tidak bermoral. Bisa terjadi juga, remaja yang menghina pahlawan ia akan diberi gelar duta pahlawan, dan bahkan bisa terjadi remaja yang menghina presiden akan diberi gelar duta presiden.
Penghinaan dan kenakalan remaja akhir-akhir ini sudah barang tentu disebabkan karena krisisnya moral remaja di berbagai sektor, karena guru sudah tidak bisa lagi merubah dan memperbaiki karakter remaja di sekolah. Sementara itu, guru adalah profesi yang sangat penting untuk dapat merubah karakter siswa. Apakah itu karena pembatasan hukuman yang sudah diatur dalam undang-undang HAM? Banyak kalangan mulai dari masyarakat dan bahkan kalangan guru yang mengatakan bahwa hal tersebut terjadi karena interaksi guru dan siswa dibatasi oleh undang-undang HAM.
Pemerintah seakan-akan tutup telinga dan tutup mata, tidak ada upaya-upaya pembenahan dalam kondisi moral remaja yang bisa dibilang sangat darurat. Bukan dengan cara harus memberikan hukuman yang sangat berat kepada guru dengan harus membayar denda sekian juta dan bahkan harus mendekam di penjara. Bukankah pemerintah sudah tahu bahwa betapa beratnya perjuangan seorang guru dalam mendidik anak bangsa. Mereka mengajar dengan perjuangan yang sangat tinggi meski mereka dengan bayaran yang sangat kecil. Gaji yang mereka dapatkan sangat tidak sesuai dengan perjuangan mereka. Mereka hanya dibayar dengan Rp. 150.000,- hingga Rp. 500.000,- perbulan. Tapi, saat mereka melakukan kesalahan dengan kasus mencubit siswanya misalnya, maka mereka harus bayar denda hingga Rp. 75.000.000,-. Dari mana mereka dapat mengumpulkan uang sebanyak itu?

Penulis adalah:
Ahmad Bakir (Palengaan)
Aktivis GSBK (Guru Swasta Berbaur Kuli)

Selasa, 10 Mei 2016

Info Madura

Motif Baru Penipuan ke Lembaga Sekolah, Mengatas Namakan Kemdikbud RI

Penipuan marak terjadi lagi di sektor pendidikan Indonesia. Beberapa hari ini sejumlah guru dikejutkan dengan pesan yang dikirim melalui pesan pendek yang berisi instruksi kepala sekolah kepada para guru untuk mengikuti Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Dikdasmen Kemdikbud RI.
Kali ini giliran beberapa lembaga sekolah di Pamekasan yang menerima pesan penipuan. Dalam pesan yang dikirim dari nomor +6285757689147 itu menyebutkan bahwa semua dana transportasi dan akomodasi ditanggung oleh Kemdikbud.
Salah satu kepala sekolah di Pamekasan, Haqi, S.Pd. mengaku semua gurunya dapatkan pesan yang berisi undangan seminar yang mengatasnamakan Kemdikbud.
"Semua guru di lembaga saya menerima pesan itu. Awalnya saya dapatkan laporan dari salah satu guru bahwa ada SMS yang berisi instruksi dari saya untuk mengikuti seminar nasional" Tuturnya.
Namun, meski motif penipuan itu dianggap hal biasa oleh beberapa guru, ada juga yang masih menganggapnya benar.
"Reaksi guru bervariasi. Ada yang beranggapan itu benar dan ada pula yang langsung paham bahwa itu modus penipuan. Untung saja, saya langsung menghubungi semua guru di lembaga kami dan menjelaskan bahwa pesan itu adalah penipuan", tambahnya.
Berikut isi teks pesan penipuannya:

Salam Dari Saya.HAQI. (Kepala Sekolah SMK Algaffar)
Saya Terima Undangan "SEMINAR NASIONAL" Pada Tgl. 14-15 Mei 2016
Dari "Ditjen Dikdasmen Kemdikbud RI" Dan Semua Dana
Transfortasi Dan Akomodasi Di Tanggung Semua Oleh "Kemdikbud"
Ditujukan Kepada Yth. <nama guru>.
No.Registrasi Peserta Anda. (025747)
Untuk Keterangan Lebih Lanjut Harap
Hubungi Sekarang Panitia Bpk.Hamid Muhammad.
(Dirjen Pendidikan Dasar Dan Menengah)
Di No Hp Beliau. 082189088889
Tolong Hubungi Sekarang Sudah Ditunggu
Terimakasih.