Tampilkan postingan dengan label Pamekasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pamekasan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Desember 2017

sholeh bagas

Marak video kenakalan remaja, Wabup Pamekasan Panggil Pemuda Pamekasan

Foto: H.A (Gambar: saat pertemuan berlangsung)
www.infomadura.com Pamekasan. Wakil Bupati Pamekasan, Drs. Moh. Halil Asy'ari memanggil perwakilan pemuda Pamekasan di kediamannya yang terletak di Sumber Papan Larangan Badung Palengaan Pamekasan Selasa (12/12/2017) Malam. Hal itu dilakukan tidak lepas dari maraknya kenakalan remaja yang akhir-akhir ini sering umbar di medsos dan perbincangan tentang kota pendidikan itu kedepan.

Plt. Bupati Pamekasan itu berpesan, pentingnya peran pemuda mengajak masyarakat dalam kontrol sosial di Pamekasan. "pemuda mempunyai andil besar dalam penyadaran bersosial yang baik terutama di dunia maya yang semakin hari semakin pesat, sehingga tidak ada stigma negatif di masyarakat"  imbuhnya.

Foto: H.A (Gambar: saat pertemuan berlangsung)
Abd. Ghafur, Koordinator Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar (FKMSB) Wilayah Pamekasan yang juga menghadiri dalam jamuan yang dikemas dengan makan malam dan kajian itu melaporkan ada 25 pemuda dari berbagai kampus di Pamekasan berkesempatan hadir.

"Wabup berharap pemuda untuk bersama-sama membangun Pamekasan, sehingga implementasi Gerbang Salam benar-benar nyata di masyarakat" ucapnya.

Kedua pihak, baik Wabup Pamekasan maupun Pemuda Pamekasan berharap pertemuan ini berlanjut guna mengkaji lebih lanjut tentang Pamekasan untuk menjadi lebih baik, baik dikaji dari segi akademiknya maupun dari sosialnya. (H.A/SB).

Jumat, 28 Juli 2017

sholeh bagas

PAMERAN SENI RUPA MADURA, Lahir Karya-karya Luar Biasa




Foto: Beberapa Karya Seniman Madura saat Pameran Seni Rupa (Gambar: Dokumentasi ARTZHEIMER)
www.infomadura.comPamekasan. Seniman Muda Madura yang terkumpul dalam komunitas ARTZHEIMER (komunitas Seni Rupa Madura) menggelar Pameran Seni Rupa kali pertama di kantor Dewan Kesenian Pamekasan Jl. Trunojoyo Pamekasan dengan tema “Compo’en La Bidha”. Puluhan lukisan karya asli anggota Artzheimer dengan mengangkat tema kemaduraan ini dipamerkan sejak hari Rabu kemaren sampai sabtu malam nanti (26-29/07/2017).

Kegiatan ini berlangsung dengan berbagai kegiatan diantaranya, Pembukaan, Musik Tradisional, Sketsa Bareng, Live Mural, Sarasehan Seni dan terakhir Penutupan pada Malam minggu mendatang.

Opal selaku Anggota Artzheimer mengatakan bahwa kegiatan ini dimaksudkan agar para seniman dan pecinta seni khususnya warga Madura bisa memberikan kontribusinya terhadap kekayaan seni melalui bakat-bakat yang dimiliki oleh warga Madura.
Foto: Saat Pameran Berlangsung (Gambar: Dokumentasi ARTZHEIMER)
“ini dalam rangka mewadahi dan mengapresiasi Seniman muda Madura, dan menumbuh kembangkan kesadaran masyarakat terhadap seni, budaya dan dan pemahaman terhadap Maduranya sendiri” Lanjut Opal saat ditemui Reporter Infomadura Jum’at (28/07/2017).

Kegiatan tersebut juga mendapatkan Apresiasi dari Pemerintah Setempat, Warga Madura dan Bahkan Pengunjung dari luar Madura.

“saya berharap kegiatan ini bisa membawa Madura lebih berwarna dengan karya-karya para seniman ini yaa. Sebab sebenarnya Madura ini sangat kaya melihat karya-karya para seniman seniman dulu. Nah, sekarang ada penerusnya yang menurut saya karya-karyanya sangat luar biasa. Mudah-mudahan makin berkembang” Ungkap Bagas Sholeh Pengamat Seni dan Budaya Madura saat mengunjungi kegiatan tersebut. (Zenfreak)

Jumat, 14 Juli 2017

sholeh bagas

Pesinden Sapi Sonok Suatu Potret Emansipasi Wanita

Gambar : Dela Harismaya (foto : Dokumentasi Dela Harismaya) 
Oleh: Dela Harismaya
sheelunglee@yahoo.co.id

Emansipasi  ialah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat. Emansipasi merupakan penerapan dari Kesetaraan gender, dikenal juga sebagai keadilan gender, adalah pandangan bahwa semua orang harus menerima perlakuan yang setara dan tidak didiskriminasi berdasarkan identitas gender mereka. Ini adalah salah satu tujuan dari Deklarasi Universal Hak asasi Manusia, PBB yang berusaha untuk menciptakan kesetaraan dalam bidang sosial dan hukum, seperti dalam aktivitas demokrasi dan memastikan akses pekerjaan yang setara dan upah yang sama. Dalam prakteknya, tujuan dari kesetaraan gender adalah agar tiap orang memperoleh perlakuan yang sama dan adil dalam masyarakat, tidak hanya dalam bidang politik, di tempat kerja, atau bidang yang terkait dengan kebijakan tertentu (Wikipedia, 2016).

Artikel ini menceritakan tentang gambaran emansipasi pada wanita Madura yang bekerja sebagai sinden sapi sonok. Sapi sonok merupakan kebudayaan Madura khas Kabupaten Pamekasan. Sapi sonok merupakan aset kebudayaan Madura. Sapi sonok adalah ajang kontes semacam karapan sapi, namun sapi yang digunakan disini adalah sapi betina. Kontes sapi sonok Madura dimulai pada tahun 1960-an. Sapi sonok merupakan ajang kecantikan pada sapi betina. sapi memakai pakaian lengkap dengan pernak-penik yang menghiasi tubuhnya.  Sapi tersebut merupakan sapi pilihan yang dirawat dengan cara yang spesial, sehingga sapi sonok tidak seperti sapi pada umumnya. Sapi-sapi ini berbadan ramping dan berkulit mulus. Prosesi lomba, sapi-sapi cantik tersebut berjalan lurus layak seorang model yang giring oleh sang pemilik sapi dan iringan music saronen juga sinden. 
Gambar : saat kontes Sapi Sonok seorang perempuan sedang sinden (foto : tribunnews.com )

Banyak orang mengatakan kebanyakan perempuan Madura hanya bisa bekerja dirumah, namun persepsi itu salah perempuan Madura juga bisa bekerja diluar. Wanita Madura juga bisa berkarir. Kini keseteraan gender dikalangan wanita Madura sudah terasa. Mereka sudah dapat bekerja diluar. Wanita Madura akan merasa bangga apabila ia diberikan kesempatan menjadi sinden sapi sonok. 

Seperti pada lansiran kompas.com (Taufiq, 2012) Menjadi penari atau sinden dalam setiap kontes Sapi Sonok di Madura merupakan kebanggaan tersendiri bagi perempuan-perempuan Madura. Sebab, tidak semua perempuan bisa menari di depan umum sambil didampingi pria-pria pemilik dan penggemar sapi betina.

Menjadi pesinden sapi sonok membutuhkan keberanian serta mental yang kuat karena mereka harus menyanyi dan menari didepan umum. Lenggak-lenggok tarian dan merdunya suara yang mereka persembahkan kepada penonton. Menjadi seorang sinden sapi sonok sangatlah membutuhkan perjuangan. Tidak hanya keahlian yang harus diutamakan Mereka namun juga kecantikan menjadi nlai tambah tersendiri. (23/12), suarapagi.com “kecantikan wajah tentu akan menambah kesuksesan seorang sinden”. Pesinden berupayah menghibur penonton dengan kelihayan mereka dalam menari serta suara emas yang keluar dari pita suara mereka. sehingga kecantikan mereka seringkali mengundang syawat kaum lelaki untuk melecehkannya.

Menjalani hidup sebagai pesinden bukan hanya sekedar untuk bekerja, namun menjadi sinden sapi sonok itu berarti orang tersebut telah turut  berpartisipasi melestarikan budaya Madura. Oleh sebab itu wanita pesinden sapi sonok sudah sepatutnya mendapatkan perlindungan. Bukan untuk dilecehkan. Melindungi wanita pesinden sapi sonok itu berarti juga melindungi budaya sapi sonok agar tetap utuh. Budaya yang telah kita miliki sudah sepatut diselestarikan bukan di nodai lalu ditinggalkan agar pensinden sapi sonok tetap eksis, sehingga anak cucu kita masih dapat mengetahui apa itu sapi sonok. 

Sabtu, 08 Juli 2017

Info Madura

Ulama Madura Setia Besarkan PPP

Infomadura.com | Pamekasan: Musyawarah Anak Cabang (Musancab) VIII Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kecamatan Waru dan Batumar Mar digelar hari ini di Desa Waru Barat, Sabtu 8 Juli 2017. Musancab dihadiri oleh ulama, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Pamekasan, DPW Jawa Timur, dan kader PPP.

Ketua DPC Pamekasan KH Mundir Kholil meminta semua pengurus dan kader PPP tetap solid membesarkan partainya. Menurut dia, meskipun PPP sempat diterpa konflik tetapi ulama di Madura masih setia ke PPP.

"Alhamdulilah selama dua tahun konflik dipusat, ulama PPP di Madura tidak ada yang keluar, tidak ada yang pindah partai," Kata Mundir saat sambutan di Musancab PPP kecamatan Waru dan Batumar Mar.

Selama terjadi dualisme kepemimpinan, kata Mundir, ulama Madura membentuk Forum ulama ka'bah Madura (FUKM) untuk menampung masukan dari semua elemen. PPP kata dia, tetap menjadi perhatian ulama.

Saat ini, sambung Mundir, konflik PPP sudah selesai baik secara politik dan hukum. Dia berharap partai berlambang ka'bah dibawah kepemimpinan M Romahurmuziy terus mengabdi untuk umat.

"Jerih payah ulama tidak sia-sia, alhamdulilah PPP bersatu kembali, ulama tidak ada yang keluar dari PPP, semoga PPP berjaya di pamekasan, menjadi partai yang barokah, selamat bermusancab," tegasnya.

Musancab Waru dan Batumar Mar dihadiri Wakil Ketua DPW Jawa Timur Andi Suparto, Ketua DPRD Pamekasan Halili Yasin, Bendahara DPC Pamekasan Ali Maskur, Sekretaris DPC Pamekasan Muhsin Salim, Wakil Sekretaris DPC Pamekasan, Rasyd Fansori, Wakil Sekretaris DPC Pamekasan Slamet Riadi. (Sl/AB)

Jumat, 19 Mei 2017

sholeh bagas

SUARA SENIOR, SUARA DEWA

Foto; Ilustrasi Senior dan Junior (Gambar: www.pendidikanindonesia)
“iya kak” “siap kak” “sendiko dawuh”
Dan bahasa-bahasa tunduk lainnya yang sering dilontarkan oleh para mahasiswa baru yang baru menginjakkan kakinya di ranah kampus, seringkali mereka melihat seniornya tak ubahnya seorang dewa yang seakan semua perkataan dan perbuatannya adalah benar dan wajib diikuti.
            Padahal, pada dasarnya semuanya sama, mereka bisa saja salah, mereka bisa saja keliru, dan tidak semua  yang mereka lontarkan benar adanya. namun kepolosan mahasiswa baru sringkali dimanfaatkan oleh para senior, entah untuk kepentingan dirinya sendiri semisal dijadikan budak intelektualnya, massa dalam pemilihan organisasinya, dan bahkan budak nafsu bejatnya.
            Namun sedemikian itu perlakuan senior tetap saja mereka buta akan realita tersebut, mereka seakan terlelap dalam buaian lembut suara senior yang bak dewa, tak ada keluputan, dan kekurangan dalam petuahnya, semuanya tampak benar adanya, dan tak ada kecacatan dalam kalimatnya.
 hal ini seringkali terjadi untuk satu semester saja, yakni disemester awal (1) karena pada masa itu mereka masih berada dalam masa transisi atau peralihan dari siswa => mahasiswa, mereka masih belum menemuka kebenaran yang relatif, anggapannya kebenaran itu absolute, dan kebenaran itu adalah “suara dan tingkah senior”.
Pada semester selanjutnya mereka baru menyadari dan menemukan bahwa kebenaran itu bersifat relatif tidak absolute, anggapannya buyar, pemikirannya terbuka dan melebar, mereka menemukan keraguan dalam petuah-petuah seniornya, namun belum menemukan kebenaran versi dirinya sendiri, karena banyaknya argumentasi yang mematahkan argumentasi senior,  yang sebelumnya dianggap sebagai suara dewa,.
             Dan masa inilah masa dimana mereka akan semakin gencar mencari dan terus mencari jawaban atas keraguan yang merisaukan hatinya, ini moment bagus agar mereka semakin gencar membaca, menganalisa, dan mengamati keadaan sekitar melalui pengamatannya sendiri tidak lagi melalui suara senior, disinilah mereka akan menemukan pengetahuan yang sesungguhnya, pengetahuan yang didapat hasil analisanya sendiri, hingga mereka menemukan pengetahuan yang bermakna, selaras dengan teori kontruktivisme yang dicetuskan oleh giambatista vico dalam buku kontextual teaching and learning dan teori ini juga seringkali kita temukan dalam berbagai buku pendidikan.
            Dan kita mengakui bahwa kita tak lagi layak hanya menjadi budak-budak mereka, kita tak lagi layak membenarkan setiap apa yang mereka katakan, kita tak lagi menjadikan mereka seakan nabi  ataupun malaikat yang tak pernah salah , mereka manusia biasa yang bisa saja salah dan bisa saja benar, Maka memfilter pendapat mereka adalah sesuatu yang tepat, memilih mana yang layak diadopsi dan dieleminasi adalah bentuk cerdasnya kita sebagai mahasiswa.

Khairul Anam
Pamekasan 17 mei 2017
Cafe & Book Shop MABA
           

            

Rabu, 10 Mei 2017

Info Madura

Peningkatan SDM Karyawan melalui Diklat Manajemen Funding dan Lending di Koperasi Syariah Nuri Jawa Timur

INFOMADURA.COM | PAMEKASAN : Sumber Daya Manusia (SDM) Karyawan menjadi perhatian khusus bagi Koperasi Syariah Nuri Jawa Timur (KSN JATIM), termasuk pengembangan pengetahuan karyawan tentang funding dan lending yang merupakan bentuk produk koperasi simpan pinjam.
Upgrading pengetahuan tentang funding-lending yang dikemas dengan pendidikan dan pelatihan (diklat) dilaksanakan pada hari Selasa (9/5) di Gedung Peragaan Busana Lantai II SMKN 3 Pamekasan yang  beralamat di jalan kabupaten Pamekasan dengan menghadirkan ketua pengurus Koperasi Syariah Nuri Achmad Mukhlisin sebagai pemateri.
Mengingat pentingnya peningkatan SDM karyawan tentang funding dan lending di koperasi yang dinobatkan sebagai koperasi berprestasi tingkat nasional pada tahun buku 2016 lalu, maka koperasi ini terus melakukan peningkatan-peningkatan dengan menggelar diklat dengan tema Manajemen Funding dan Lending yang diikuti oleh semua karyawan manajerial, semua manajer cabang dan marketting Koperasi Syariah Nuri Jawa Timur.
Kegiatan yang berlangsung selama 5 jam tersebut dilakukan sebagai upaya pengurus untuk terus meningkatkan SDM para karyawannya sehingga kegiatan usaha dan produk di KSN JATIM terus meningkat dan menjadi koperasi yang unggul dan kompetitif serta menjadi pilar pembangunan ekonoomi ummat
“Kegiatan diklat ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan SDM karyawan sehingga koperasi kami menjadi koperasi yang unggul dan menjadi pilar pembangunan ekonomi ummat”. Ungkap Sekretaris Koperasi Syariah Nuri Jawa Timur Abdul Wafi Jamal yang sekaligus penanggung jawab acara. (AB)
Info Madura

Gelar Diklat Kaderisasi Ulama Falak; BHR Gandeng kemenag, LFNU dan KOMPAS Kulminasi

INFOMADURA.COM | PAMEKASAN- "Selama ini, ada kesan ilmu falak hanya dibutuhkan satu atau dua kali dalam satu tahun, padahal sebenarnya ilmu falak itu dibutuhkan setiap hari, lima kali sehari, yaitu untuk mengetahui awal waktu shalat." Demikian disampaikan Ketua PCNU Pamekasan KH. Hasyim Taufiq, M.Pd.I. dalam sambutannya pada acara Diklat Kaderisasi Ulama' Falak Angkatan I Tahun 2017.

Dalam acara yang diselenggarakan atas kerjasama Badan Hisab Rukyat (BHR) Kab. Pamekasan dengan Kemenag Pamekasan, Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Pamekasan dan KOMPAS Kulminasi Pamekasan (9-11 Mei 2017) tersebut, Kyai Hasyim berharap agar kegiatan Diklat itu dapat dimaksimalkan oleh peserta.

Sementara itu, Ketua BHR Pamekasan Ilyasak, S.Ag. mengatakan, untuk angkatan pertama, Diklat tersebut hanya melibatkan para penyuluh KUA dan takmir Masjid besar per kecamatan di Pamekasan. "Ke depan dalam angkatan-angkatan selanjutnya, insya Allah akan melibatkan peserta yang lebih umum. Terutama para mahasiswa jurusan syariah dan para santri pondok pesantren," kata pria yang juga Kasi Pensyar Kemenag Pamekasan itu.

Dihubungi terpisah, Ketua Panitia Diklat H. Mohammad Yusuf mengatakan, Diklat ini dilaksanakan untuk melakukan kaderisasi ulama' falak setelah beberapa tahun sebelumnya digelar diklat serupa namun dalam format berbeda. "BHR sudah lama tidak menggelar diklat seperti ini. Sehingga untuk kepengurusan BHR periode ini merupakan yang pertama," kata pengasuh LPI Al-Kautsar tersebut kepada infomadura.com.

Dalam acara pembukaan Diklat, selain Ketua PCNU Pamekasan, hadir juga Kepala Kantor Kemenag Pamekasan Drs. Ec. Moh. Sodiq, M.Pd.I., Kasi Bimas Kemenag Pamekasan, Kepala Badan Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kab. Pamekasan Taufikurrahman, dan jajaran pengurus BHR Pamekasan.

Materi yang disampaikan dalam Diklat tersebut adalah Istilah Falakiyah dan Pengenalan Dasar Matematika Falak oleh ketua BHR, dan Penentuan Arah Kiblat yang diampu oleh Sekretaris BHR Pamekasan Hosen, M.HI. Materi terakhir adalah Penentuan Awal Waktu Shalat yang disampaikan oleh Dosen Falak STAIN Pamekasan H. Achmad Mulyadi, M.Ag. (AlBanna)

Senin, 10 April 2017

sholeh bagas

Sastra Madura: Inspirasi Pendidikan Karakter Menuju Kemajuan Bangsa

Foto: Gambar Dokumentasi Dela HarisMaya
Sastra Madura
Sastra daerah baik lisan maupun tulisan merupakan kekayaan budaya daerah yang kelestariannya ditentukan oleh pendukung budaya daerah yang bersangkutan. Sastra daerah menyimpan nilai-nilai kedaerahan dan akan memberikan sumbangsi yang sangat besar bagi perkembangan sastra di daerah dan Indonesia pada umumnya. Dengan sastra daerah, dapat diketahui asal-usul suatu daerah dengan berbagai kearifan yang dicurahkan lewat berbagai mitos, legenda, dongeng, dan riwayat termasuk di dalamnya permainan rakyat dan nyanyian lokal.
Berbicara mengenai sastra daerah, tentunya tidak terlepas dari bahasa yang menjadi akar dari sastra daerah itu sendiri. Selain itu bahasa juga menjadi simbol suatu peradaban bangsa. Bahasa Madura mempunyai sistem pelafalan yang unik. Begitu uniknya sehingga orang luar Madura yang berusaha mempelajarinyapun mengalami kesulitan, khususnya dari segi pelafalan tadi. Bahasa Madura mempunyai lafal sentak dan ditekan terutama pada konsonan [b], [d], [j], [g], jh, dh dan bh atau pada konsonan rangkap seperti jj, dd dan bb . Namun penekanan ini sering terjadi pada suku kata bagian tengah. Sedangkan untuk sistem vokal, Bahasa Madura mengenal vokal [a], [i], [u], [e], dan [o].
Secara umum, terdapat dua jenis sastra Madura, yaitu sastra Madura populis dan sastra Madura partikularis. Disebut Populis karena sastra Madura jenis ini dikenal luas oleh segenap lapisan masyarakat Madura. Disebut partikularis karena sastra jenis ini dikenal hanya oleh beberapa lapis masyarakat dan biasanya oleh generasi tua (Iqbal Nurul Azhar: 2013)
Contoh dari sastra Madura populis adalah dungngeng (dongeng). Dungngeng adalah cerita rakyat yang mengandung pesan-pesan moral dan harapan dan sering didendangkan dalam perkumpulan-perkumpulan bahkan dalam keluarga. Dungngeng ini merupakan bingkai dari kisah-kisah kehidupan masyarakat Madura di masa lampau. Beberapa dungngeng Madura yang terkenal adalah dungngeng kepahlawanan pangeran Tronojoyo, Potre Koneng, Asal muasal kerapan sapi, Sakera, Ke’ lesap, Angling Darma Ambya Madura, dan lainnya.
Contoh yang kedua dari sastra populis adalah syi’ir. Syi’ir merupakan rangkaian kata-kata indah yang membentuk kalimat-kalimat yang terpadu dan biasanya di baca di pesantren-pesanten, majlis ta’lim, dan walimatul urs. Si’ir Madura tersusun dari 4 padda/biri (baris). Tiap padda terdiri dari 10 keccap (ketukan). Tiap akhir suara pada padda mengandung pola a – a – a – a. Isi syi’ir bermacam-macam, bergantung dari selera dan kesenangan serta tujuan dari pembuatnya. Jenis-jenis syi’ir beraneka ragam seperti syi’ir yang menceritakan kisah nabi, cerita orang mati siksa kubur, perhatian pada pendidikan, agama atau akhlak. Contoh-contoh syi’ir adalah sebagai berikut
Pong-pong gi’ kene’ gi’ ngodha-ngodhaPabajeng nyare elmo akida
Manabi nyaba dhapa’ gan dhadha
Kastana ampon bi’ tadha’padha
Mumpung masih kecil masih muda-mudaRajinlah mencari ilmu akidah
Apabila nyawa telah sampai di dada
Menyesalpun tidak akan ada manfaatnya
Sastra Madura dapat memberikan motivasi kepada pembaca, pendengar, pencipta dan penggemarnya. Berikut adalah beberapa contoh karya sastra yang memikili pesan moral dan motivasi-motivasi:
a) Puisi Pantun Madura
Pantun Madura dikenal juga sebagai sendhilan. Sendhilan digunakan sebagai salah satu bentuk komunikasi antarorang Madura. Keunikan dari komunikasi sendhilan adalah komunikasi jenis ini dilakukan dengan menggunakan pantun atau paparegan. Biasanya, sendhilan dilakukan antara kaum laki dan kaum perempuan dengan cara berbalas-balasan pantun.
Di dalam sebuah pantun ada yang dinamakan  andheggan (bait) pantun dan  padda/biri (baris) pantun. Setiap andheggan terdiri dari empat padda, dan pada tiap-tiap padda biasanya berisi delapan keccap (ketuk/suku kata). Lafal (suara/bunyi) yang berada di akhir padda pertama harus sama dengan lafal suara di akhir padda tiga. Lafal suara akhir padda dua sama dengan lafal suara pada akhir padda keempat (Jasin, 2005).
Pantun yang digunakan dalam sastra dan budaya Madura ada 4 jenis, yaitu: (1) Pantun agama: berisi ajaran dan pesan-pesan agama,  (2) Pantun baburugan (nasehat): berisi nasehat yang mengandung aturan, ajaran  budi pekerti, pendidikan dan akhlak, (3) Pantun sekaseyan: digunakan oleh para pemuda ketika jatuh cinta, (4) Pantun palenggiran: berisi kalimat yang dapat membuat orang tertawa karena lucu.
Contoh puisi pantun Agama
Ngare’ lalang ka PangleghurNompa’ rata asamperan
Ta’ elanglang dika lebur Kor ja’ loppa dha’ Pangeranna
Mengambil ilalang ke pangleghurNaik rata memakai kain samper
Tidak dihalangi anda senang Asalkan jangan lupa pada penciptanya
Contoh Pantun Babhurugan
Ngala’ sere epapesaEsarenga gan sakone’
Knesserra oreng towa Semeyara kabit kene’
Ngambil sirih dipisahkanDisaring sedikit demi sedikit
Sayangilah orang tua yang memelihara sejak kecil
 Contoh Pantun Sekaseyan
Pasar bara’ pasar PakongMelle jamo copa’agi
Mon ta’ endha’ enggi ampon Ding tatemmo sapaagi
Pasar barat pasar PakongBeli jamu diludahkan
Kalau tidak mau tidak apa-apaKalau bertemu sapalah
            Contoh Pantun Plenggiran
 b) Paparegan
Paparegam adalah salah satu bentuk sastra Madura yang biasa digunakan untuk memberi nasehat. Bentuk paparegan  ada dua yaitu:
1)      Paparegan yang terbentuk dari dua padda/biri (baris) dalam satu andheggan     (bait). Padda/biri pertama adalah samperan/bibidan. Padda/biri kedua adalah isi/teggessa
2)       Paparegan yang terdiri dari 4 padda/biri dalam satu andheggan. Padda/biri 1 dan 2 berupa samperan/bibidan. Sedang padda/biri 3 dan 4 adalah isi/teggessa dari Paparegan (Jasin, 2005).
Paparegan yang terdiri dari 4 padda/biri memiliki bentuk yang hampir sama seperti pantun. Keduanya sama-sama mengandung guru sastra dan guru sowara. Bedanya, jika pantun ditentukan berapa jumlah keccap (ketuk/suku kata), maka dalam paparegan tidak ditentukan banyaknya keccapnya.
Contoh Paparega yang terdiri dari 2 padda
 Contoh Paparega yang terdiri dari 4 padda 
c) Saloka
Saloka adalah kata-kata sastra yang  berisi petuah-petuah bijak, dan penuh makna. Sering disampaikan dalam banyak acara dan dalam tulisan-tulisan sastra Madura. Kebenaran dari isi petuah-petuah bijak ini telah banyak dibuktikan  sehingga orang yang mendengar atau membaca akan selalu membenarkannya dan meyakini. Contoh
1)      Juda nagara potos: hokum nagara ta’ ekenneng tandhinge (Yuda Negara Putus; Hukum negara tidak bisa ditandingi)
2)      Namen cabbi molong cabbi: jube’na oreng gumantong dhari lakona dibi’ (Menanan cabai menuai cabai; keburukan orang tergantung dari tingkah lakunya sendiri)
3)      Mon bagus kodu pabagas: mon oreng bagus robana kodhu pabagus reya Gulina (Orang yang wajahnya bagus seharusnya tingkah lakunya juga bagus)
d)Tembhang
Tembhang tidak jauh berbeda dengan syi’ir. Biasanya tembhang dibaca ketika seseorang mempunyai hajat seperti akan mengawinkan anak atau yang lainnya. Tembhang ini di baca oleh dua orang atau lebih sepanjang malam.
Ada 3 jenis jenis tembhang yang dikenal oleh orang Madura. Yaitu Tembhang Macapat, Tembhang Tengnga’an, dan Tembhang Raja. Tembhang Macapat terdiri dari 9 macam jenis  antara lain: (1) Tembhang artate, (2) Tembhang Maskumambang, (3) Tembhang Senom, (4) Tembhang Kasmaran, (5) Tembhang Salanget/Kenanthe, (6) Tembhang Pangkor (7) Tembhang Durma, (8) Tembhang Mejil, (9) Tembhang Pucung. Tembhang Tengnga’an terdiri dari ada 5 jenis yaitu (1) Tembhang Jurudemmong (2) Tembhang Wirangrong (3) Tembhang Balabak (4) Tembhang Gambu (5) Tembhang Magattro. Adapun tembhang yang terakhir adalah tembhang Raja. Yang termasuk tembhang jenis ini hanya ada satu yaitu tembhang Giriso (Jasin, 2005). Yang paling banyak digunakan dan dibahas dalam buku kesusastraan Madura adalah Tembhang Macapat yang berjumlah sembilan. Dalam makalah ini, akan didiskusikan secara umum ciri kesembilan jenis tembang tersebut.
Tembhang Artate memiliki arti pengharap kebaikan. Tembhang ini biasanya digunakan untuk menyebarkan nasihat baik, bisa juga digunakan untuk kagemaran, juga dipakai untuk pembuka di tengah maupun di akhir cerita. Tembhang Maskumambang memiliki pengertian prihatin, kondisi yang sangat susah dan mengenaskan. Tembhang Senom mengandung kiyasan atau parsemon, sangat bagus digunakan untuk ajaran kebatinan.
Tembhang Kasmaran memiliki arti asmara atau kasemsem, tembhang ini menungjukkan perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta. Tembhang Salanget/Kenanthe memiliki arti kanthe dan longet. Tembang ini digunakan untuk ajaran kebaikan, kegandrungan, kerukunan dan lalonget. Tembhang Pangkor memiliki arti ekor. Tembang ini digunakan untuk menunjukkan perasaan keras, marah, dan menghadapi perang. Tembhang Durma memiliki arti sifat macan, sedih, sangat marah, perang. Tembhang Mejil memiliki arti keluar. Digunakan untuk kegemaran, kesusahan dan prihatin. Tembhang Pucung memiliki arti keluar, bersifat lebih ringan, dan biasanya berupa tebak tebakan atau teka-teki.
Tiap-tiap tembhang memiliki aturan tersendiri baik itu berupa jumlah andheggan maupun paddha/biri. Pada tiap-tiap paddha, guru bilangan telah ditentukan, demikian juga guru lagunya. Yang dimaksud guru bilangan adalah banyaknya ketukan pada tiap padda. Yang dimaksud guru lagu adalah suara pada tiap akhir padda. Contoh aturan pada tembhang (dalam hal ini Pucung):
Bapa’ pucung ropana amendha gunong
Tadha’ reng se tresna
Mala kabbhi pada baji’

Ding kanggunan elos-ellos ngesprengesan

Sifat Pucung: (a) Andheggan: 4 padda/biri (b) Padda no 1 guru bilangannya 12 ketuk mengandung guru lagu o atau u (c) Padda no 2 mengandung guru bilangan 6 ketuk. Mengandung guru lagu a (d) Padda no 3 mengandung 8 ketuk, mengandung guru lagu e atau i (e) Padda no 4 mengandung guru lagu 12 ketuk, mengandung guru lagu a (Jasin, 2005). Contoh tembhang lainnya (dala hal ini Slanget dan Maskumambang bisa dilihat di bawah ini:
Slanget
Tabbuwanna pon ngaromongNajagana padha oneng
Sadajana reng pettengan
Swarana nyaman ka kopeng
Terros kerkas tale rassa
Otek somsom bara ate
Musiknya telah berkumandangPemainnya telah paham
Semuanya gelap
Suaranya merdu di telinga
Menggetarkan hati
Otak sumsum paru-paru hati
Mas kumambang
Adhu adhu benne kaka’ benne ale’Benne sana’ kadhang
Mon mate noro’ nangesen
Marga melo kaelangan
Aduh aduh bukan kakak bukab adikBukan snak sudara
Jika meninggal ikut menagis
Karena ikut merasa kehilangan

Perilaku Menyimpang pada remaja
Menurut Gillin Perilaku menyimpang adalah perilaku yang menyimpang dari norma dan nilai sosial keluarga dan masyarakat yang menjadi penyebab memudarnya ikatan atau solidaritas kelompok.Perilaku menyimpang yang juga biasa dikenal dengan nama penyimpangan sosial adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan atau kepatutan, baik dalam sudut pandang kemanusiaan (agama) secara individu maupun pembenarannya sebagai bagian daripada makhluk sosial (Wikipedia: 2013).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun di tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat, misalnya seorang siswa menyontek pada saat ulangan, berbohong, mencuri, dan mengganggu siswa lain.
Perilaku menyimpang pada remaja terjadi pada masyarakat dikalangan atas maupun dikalangan bawah. Telah banyak terjadi kasus pergaulan bebas di kalangan remaja dan telah mencapai titik kekhawatiran yang cukup parah, terutama tindakan seks bebas. Pelakunya bukan hanya kalangan SMA, bahkan sudah merambat di kalangan SMP. Sehingga banyak kasus remaja putri yang hamil diluar nikah (Iis Susanti: 2015).
Masa remaja hendaknya digunakan sebaik mungkin untuk menuntut ilmu dan bersosialisasi pada tempat yang seharusnya agar tercipta kepribadian yang santun dan agamis, namun para remaja telah diracuni oleh budaya asing (westernisasi) sehingga mereka berubah haluan dari kepribadian bangsa timur yang tertutup menjadi budaya barat yang budaya berpakaiannya terbuka atau transparan. Menurut Fanggidae hal tersebut disebut Pergeseran Nilai akibat majunya arus informasi dari dunia internasional (Fanggidae, 1993:6).
Sosialisasi yang dijalani individu tidak selalu berhasil menumbuhkan nilai dan norma sosial dalam jiwa individu. Akibat kegagalan mensosialisasikan nilai dan norma sosial itu, kadang kala individu melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan kaidah yang berlaku di masyarakat atau yang disebut dengan penyimpangan sosial atau perilaku menyimpang (Iis Susanti: 2015).
Remaja memerlukan cerminan yang baik, lingkungan yang baik akan memberikan dampak yang baik. Remaja bertikah laku menyimpang tentunya ada suatu penyebab baik internal maupun eksternal.



Faktor internal penyebab kenakalan remaja (Solusi Remaja: 2016), yaitu:
a)      Krisis identitas
Perubahan secara fisik maupun sosiologis pada remaja memungkinkan terbentuknya dua hal yang terjadi. Pertama, terbentuknya perasaan terhadap konsistensi pada kehidupannya. Yang kedua adalah tercapainya identitas peran. Seorang remaja akan mengalami pemberontakan ketika mengalami ketidak seimbangan antara konsistensi kehidupan dan identitas peran.
b)      Kontrol diri yang lemah
Dalam berperilaku seseorang membutuhkan kontrol. Remaja yang kurang bisa menilai perilaku mana yang bisa dilakukan dan mana yang tidak akan lebih mudah melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang. Kontrol diri dalam remaja diperlukan untuk mencegah remaja dalam melakukan perilaku menyimpang yang dipengaruhi oleh dalam diri sendiri maupun lingkungan.
Faktor eksternal penyebab kenakalan remaja(Solusi Remaja: 2016), yaitu:
a)      Problem dalam Keluarga
Permasalahan dalam keluarga seringkali berdampak pada kondisi psikologis remaja. Pola asuh tidak sesuai hingga perceraian orangtua berdampak pada pemberontakan remaja dengan melakukan perilaku “nakal”.
b)      Pola pendidikan sekolah yang tidak sesuai
Pola pendidikan otoriter yang cenderung menggunakan kekerasan dalam proses belajar mengajar bisa menjadi faktor timbulnya agresifitas remaja yang tinggi. Remaja akan cenderung melampiaskan tekanan yang dialami di sekolah dalam bentuk kenakalan. Teman sebaya yang kurang baik Teman sebaya memiliki pengaruh yang kuat pada perilaku remaja. Remaja yang memiliki teman sebaya yang kurang baik seringkali terpengaruh pada perilaku yang menyimpang. Teman sebaya merupakan tolak ukur apakah remaja diterima dalam lingkungannya atau tidak. Tak jarang remaja demi melakukan apa saja demi bisa diterima oleh teman sebayanya.
c)      Lingkungan tempat tinggal yang buruk
Karakter seorang remaja juga dipengaruhi oleh lingkungan dimana tempat ia tinggal. Remaja yang tinggal pada lingkungan yang penuh dengan kriminalitas cenderung akan memiliki perilaku kriminal pula. Tak jarang perilaku menyimpang remaja dipengaruhi oleh lingkungan yang tidak baik.
Pendidikan karakter
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian (KBBI). Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UU No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS).
Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara. menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik-baik yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku.
Pendidikan karakter adalah segala upaya yang bisa dilakukan untuk mempengaruhi karakter anak didik. Pendidikan karakter merupakan suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan menerapkan nilai-nilai etika atau budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter sangat berperan penting dalam pembangunan suatu bangsa. Bangsa yang memiliki karakter dan kepribadian, maka akan unggul dibandingkan dengan bangsa yang belum memiliki karakter dan kepribadian.
Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education)  dalam konteks saat ini sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas, oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan karakter.
Pendidikan karakter merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan di dunia ini. Karena dengan adanya pendidikan karakter inilah manusia mampu berperilaku sesuai dengan karakter bangsa. Sehingga identitas dalam suatu Negara kita tercinta ini Negara Indonesia menjadi jelas. Sastra Madura merupakan karya sastra yang kaya dengan pesan moral. Ajar-ajaranya yang mengajak kea rah kebaikan. Dalam hal ini pendidikan karakter melalui karya sastra Madura perlu di tanamankan kepada remaja. Pentingnya pendidikan karakter ini ditanamkan agar remaja sebagai generasi penerus bangsa tidak terjerumus ke arah perilaku yang tidak sesuai dengan karakter bangsa kita bangsa Indonesia yang terkenal dengan kesopanan dan keramahannya.

 Dituli Oleh:
Nama : Dela Harismaya
Tempat dan tanggal lahir : Probolinggo,03 Agustus 1997
Status : Mahasiswa
Asal Institusi :  Universitas Trunojoyo Madura

Atikel ini diikut sertakan dalam Kegiatan IMPEG Award Bidang LKTI sebagai Juara I Yang diselenggarakan oleh Studi Riset Pengembangan Madura (SRPM) pada Hari Minggu 15 Januari 2017